Perpustakaan Ajaib Bibbi Boekan

Namun, pada saat itu aku pun tahu bahwa setiap kali membuka sebuah buku, aku akan bisa memandang sepetak langit. Dan jika membaca sebuah kalimat baru, aku akan sedikit lebih banyak tahu dibandingkan sebelumnya. Dan segala yang kubaca akan membuat dunia dan diriku sendiri menjadi lebih besar dan luas.

Nils dan Beriet adalah dua anak berusia 13 tahun yang terpisah. Mereka memiliki sebuah ide brilian, yaitu membuat buku surat. Saling menulis surat, namun di dalam sebuah buku yang dikirim bolak-balik, sehingga jadi seperti memiliki buku harian bersama. Atau sebuah kisah yang ditulis bersama-sama.

Dimulai ketika Berit menceritakan suatu kisah yang sangat ganjil. Dia bertemu dengan seorang perempuan yang mencurigakan yang bernama Bibi Bokken, dan mencuri sepucuk surat dari si perempuan. Isi suratnya menyebutkan tentang adanya sebuah perpustakaan yang dalam koleksinya berisi buku-buku yang belum pernah diterbitkan. Nah loh! Bagaimana bisa? Surat tersebut merujuk satu buku berjudul Perpustakaan Ajaib dan akan terbit tahun depan.

Bagi orang dewasa, mungkin akan segera berpendapat bahwa perpustakaan itu bisa saja adalah bagian dari suatu perusahaan penerbitan. Buku-buku yang berada di sana, ya..isinya mungkin memang buku-buku yang belum beredar. Tapi bagi Nils dan Berit, ini super duper menarik. Hebuat sekali!! Ada suatu perpustakaan yang koleksinya berisi buku-buku yang belum pernah ada.

Mengherankan!!!

Sebenernya, Berit dan Nils punya alasan kenapa mereka beranggapan bahwa hal itu menarik. Dalam surat dinyatakan bahwa sang pustakawan marah ketika seseorang bernama Siri mengintip isi buku berjudul Perpustakaan Ajaib itu. Pustakawan bilang, bahwa buku itu lebih berharga dari incunabula. Incunabula adalah karya-karya yang diterbitkan tahun 1500.

Nah, bagaimana mungkin sebuah buku bisa lebih berharga dari incunabula?

Berit yang tinggal satu kota dengan Bibbi Bokken berusaha memata-matainya sementara Nils, justru mengalami petualangan yang lebih seru lagi saat muncul seorang laki-laki yang mengikuti dan berusaha untuk merampas buku surat mereka.

Siapa sebetulnya Bibbi Bokken? Kenapa Bibbi Bokken seakan-akan selalu tahu apa yang Nils dan Berit lakukan, dan lebih parahnya, pikirkan? Apakah perpustakaan misterius itu benar-benar ada? Lalu apa sebetulnya yang disebut Perpustakaan Ajaib yang lebih berharga dari incunabula itu? Siapa laki-laki yang berusaha merebut buku surat mereka? Kenapa dan untuk apa?

Dari Norwegia sampai ke Roma lalu kembali ke Norwegia, dua remaja berusia 13 tahun ini berusaha menguraikan setiap pertanyaan yang ada.

Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken terbagi dua bab. Bab pertama adalah isi dari buku surat Nils dan Berit, bab kedua adalah kejadian-kejadian yang terjadi setelah buku surat Nils dan Berit pada akhirnya jatuh ke pihak lain.

Pada bab pertama, kisah berjalan agak membingungkan. Baik Nils maupun Berit nampaknya memiliki gaya menulis yang mirip satu sama lain, dan memiliki karakter yang hampir identik. Namun jangan khawatir, cukup menyenangkan membaca kisah-kisah dua anak ini. Selayaknya remaja tanggung, isi surat mereka dinamis, spontan, konyol, mengkhayal, dan kadang, gak penting bangeet sih! Nils dan Berit mengajak kita untuk berkenalan dengan kisah-kisah sastra dunia, memahami puisi, belajar untuk menulis sebuah kisah yang baik, berkenalan dengan seluk beluk dunia kepustakawanan, dan tentu, teori-teori konspirasi yang menggelikan.

Bab kedua, yang berkisah masih Nils dan Berit, dengan cara yang lebih membingungkan lagi. Kalau dalam bab pertama, batas antar surat masih terpisah jelas, sekarang batas itu sudah menghilang. Agak susah kita membedakan siapa yang saat itu menjadi ‘aku’. Akhirnya yah, saya sih jadi sering bolak-balik lagi karena bingung. Pada bab kedua ini, hampir seluruh misteri terungkap pada saat yang bersamaan kecuali satu misteri, yang Bibbi Bokken tinggalkan bagi Nils dan Berit untuk mereka pecahkan sendiri.

Buku tentang buku

Kalau dalam Dunia Sophie kita menemukan ada buku dalam sebuah buku, maka Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken adalah sebuah buku tentang buku. Atau lebih tepatnya, tentang dunia perbukuan dan kepustakawanan. Kita akan dikenalkan dengan beberapa istilah, serta sistem perpustakaan. Sebagai contoh adalah DDC (Dewey Decimal Classification) yang merupakan sistem klasifikasi buku yang paling banyak digunakan di perpustakaan di seluruh dunia, dan juga katalogisasi. Selain itu, kita juga diajak untuk mengamati bagaimana sebuah buku dapat dilahirkan. Dari mulai proses kreatif penulisan, editing, percetakan dan seterusnya yang menurut saya, akan menarik sekali.

Surat Cinta?

Di sampul belakang, Ruhr Nachricht menyebutkan bahwa Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken adalah sebuah surat cinta untuk dunia penulisan. Saya kira, itu berlebihan. Bagaimanapun, pembahasan mengenai dunia perbukuan di buku ini terkesan sangat nanggung. Beberapa istilah yang berkenaan dengan perpustakaan pun tidak akurat, yang menurut saya, lebih pada penerjemahan. Tapi bagaimapun, ini buku yang sangat bagus dan cukup bergizi untuk dibaca.

Advertisements

The Unvisibles

Ini kisah petualangan, tentang dua anak yang tidak terlihat. Yang satu adalah anak yang yang secara literal tidak terlihat, yang satu adalah seorang anak yang tidak terlihat dalam tanda petik.

Nicky Chew dan Oliver Gasper adalah dua anak laki-laki usia sekolah dasar yang berada dalam kelas yang sama, namun memiliki karakter yang berkebalikan. Nicky adalah seorang anak yang lebih suka menarik diri. Dia tidak pernah suka menjadi pusat perhatian. Dan berusaha sangat keras untuk itu. Saking ingin tidak terlihatnya, dia bahkan sering membaca essai tugas sekolah maupun ulangannya berulang-ulang untuk memastikan bahwa jawaban-jawaban yang dia tuliskan selalu berada dalam kategori ‘biasa’. Tidak mau menarik perhatian guru, atau memberi jejak pada siapapun bahwa dia sebenarnya berada dalam kategori ‘cerdas’. Dan sesungguhnya, sangat cerdas.

Oliver sebaliknya, dia senang menjadi pusat perhatian. Banyak bicara dan senang berheboh-heboh mencari perhatian. Dia suka, bahwa orang, menurutnya tentu, selalu menganggap dia keren dan sangat kreatif.

Dua anak ini, nyaris tidak pernah bicara satu sama lain, namun satu kisah membuat mereka berdua saling bersinggungan, dan akhirnya menjalinkan persahabatan. Ini diawali dari ketidak sengajaan yang berbuntut serius.

Keluarga Oliver adalah pengusaha barang bekas. Sebenarnya ini sangat menarik bagi seorang anak laki-laki, namun Oliver tidak begitu suka karena belum apa-apa, dia sudah seakan resmi menjadi bagian dari bisnis keluarga. Pada suatu hari, Oliver tanpa sengaja menemukan sebuah majalah kuno yang bertuliskan sebuah artikel yang konyol tentang mantra untuk menghilangkan diri. Tertarik, dan selayaknya seorang anak laki-laki tanggung yang normal, tanpa berpikir apa-apa, dia mengucapkan matra itu. Percaya atau tidak, mantra itu ternyata berhasil! Oliver menghilang. Dia sama sekali tidak terlihat.

Sungguh keren!!!!

Dan petualangan ini secara resmi dimulai!

Oliver senang sekali. Dia datang ke sekolah, dan membuat banyak ulah jail yang menurutnya, spektakuler. Dia bukan anak yang jahat, atau bahkan nakal, tapi jahilnya gak ketulungan. Dia mengganggu guru-guru dan anak-anak yang tidak pernah disukainya. Namun, kegembiraan ini hanya sesaat saja ketika Oliver mulai menyadari bahwa, menjadi tidak terlihat, itu sungguh berbahaya. Dia bisa saja tertabrak kendaraan, atau tersenggol orang lain yang tidak sadar sampai terjatuh lalu terinjak-injak.

Semakin parah ketika Oliver sadar bahwa majalah kuno yang menuliskan artikel konyol itu ternyata sudah terjual kepada pihak lain. Dalam keadaan yang membingungkan itu, pertolongan justru datang dari anak tak terlihat lain. Kawan sekelasnya sendiri.

Nicky Chew yang senang dengan hidup tenang, tentu tidak suka dengan prospek petualangan menegangkan dalam usaha membantu Oliver menelusuri jejak majalah kuno yang super duper konyol itu. Tapi yah, orang kan tidak dapat hidup sendiri. Nicky sadar, bahwa bahkan dia pun, butuh orang sekaliber Oliver pada suatu saat ketika dia kesulitan. Pada akhirnya, dua anak yang tadinya tidak pernah saling tegur sapa ini, jadi satu tim yang kompak, dalam usaha memperbaiki keadaan yang semakin kacau balau. Tentu yang lebih menarik lagi, perjalanan mereka berdua bukan hanya menghasilkan suatu jalinan persahabatan, tapi juga mengungkapkan suatu kasus penyelundupan yang sudah memusingkan polisi dan mengakibatkan kerugian negara yang cukup besar.

Don’t judge this book by its cover. Terus terang saja, saya membeli buku ini lebih dari satu tahun yang lalu awalnya hanya sebagai reward, untuk anak yang mendapat stiker patuh terbanyak selama satu tahun di kelas saya. Saat saya membaca lembar-lembar awal, saya sadar, bahwa buku ini terlalu ‘membosankan’ untuk anak kelas 2 SD. Lalu buku ini tersimpan di rak buku saya, dan terlupakan sama sekali. Masih rapih seperti baru, saya membacanya kembali, dengan sedikit pesimis, bahwa mungkin ini cukup menarik untuk kami baca di kelas 5 sebagai ‘kisah pagi’. Dan semakin membuka lembarannya, semakin sadar bahwa di dalam buku yang relatif tipis ini, tersimpan banyak pelajaran yang berharga.

Ini adalah kisah yang menyenangkan tentang pertemanan, tentang belajar untuk memahami orang lain, tentang perduli terhadap kesulitan dan kebutuhan orang lain, tentang petualangan yang seru, tentang membela kebenaran, dan tentu, yang paling penting dari semuanya, tentang anak-anak. Menurut saya, buku ini juga bagus untuk dibaca guru untuk kembali berpikir bahwa bahkan seorang anak yang menjengkelkan seperti Oliver, terkadang diberi cap terlalu berlebihan atas tindakan-tindakannya. Dan tentu, anak-anak seperti Nicky Chew, yang saya yakin sungguh banyak dan tak terlihat, jangan sampai pula terabaikan.

Seven Samurai

Buat yang belum pernah nonton, ini film keren banget!


Film Jepang keluaran tahun 1954 yang bersetting pada abad 16 ini mengisahkan tentang kehidupan para petani yang mengalami penindasan. Selain harus membayar pajak yang mencekik leher, kerja rodi serta masa paceklik yang panjang, para petani juga harus berhadapan dengan gerombolan perampok yang merampas setiap butir beras yang tersisa.

Sebuah desa memutuskan untuk bertahan dari serangan 30 orang perampok berkuda alih-alih memberikan apa yang tersisa pada mereka. Untuk itu, mereka menyewa tujuh orang samurai dengan imbalan 3 kali makan sepanjang bekerja melindungi desa. Cuma itu yang sanggup mereka berikan. Walaupun dengan bayaran yang tidak layak, tujuh orang samurai ini mempertahankan desa sampai titik darah penghabisan (bayangin 7 orang samurai dengan peralatan alakadarnya berhadapan dengan 30 orang bandit terlatih berkuda dengan peralatan lengkap plus beberapa pucuk senapan). Itulah salah satu tugas mereka dan kehormatan bagi orang Jepang, mati menderita demi memenuhi suatu kewajiban sosial.

Menurut saya film ini keren. Ceritanya sederhana tapi kompleks menggambarkan bermacam-macam konflik dibaliknya. Setiap tokoh di film ini memiliki watak yang unik, membumi, dan pas sekali digabungkan bersama-sama. Cuma hati-hati aja matanya bakal sakit karen film ini cuma punya dua warna, hitam dan putih (tahun 54 bikinnya gitu loh..) udah gitu durasinya ituloh..tiga jam! Tapi menurut saya sih tidak membosankan. Film ini emosional dan penuh humor khas penduduk desa, serta sarat dengan nilai-nilai dan filosofi bermasyarakat.

Sudut Pandang yang Menarik?

udah hampir 5 bulan saya tidak membaca novel lagi. Bahan bacaan saya tau-tau berubah ke karya-karya klasik ngutek-utek dari il Principe sampai Falsafah Hidup Hamka.


Buku-buku pemikiran agama. Buku-buku pendidikan anak. Buku-buku pelajaran sekola SD 😛 . Terakhir agar nyambung kalau ngobrol dengan kawan, mulai membuka majalah-majalah perempuan :P. Akhirnya saya kembali pulang ke novel.

Maya karya Jostein Garder. Dan saya membaca duluan melompati The Kite Runner yang sudah dibuka-buka dan dicicipi sedikit hanya karena adik saya Anne bilang:

KEREN CUUUY!!! SERUUUU! NGAGETIIIIN!!! PENCERAHAAAAN…..

Ah dia sih semua bukunya Jostein Gaarder juga dibilang begitu. Lupa saya kalau adik tergila-gila dengan Jostein Gaarder sejak ulang tahun ke-14 tiga tahun yang lalu. Tapi saya tersaruk-saruk baca buku ini.Mungkin sudah lupa suasana JG atau memang saya pada dasarnya tidak begitu tertarik dengan biologi evolusioner sehingga kurang dapat tercebur disini. Yang jelas, saya benar-benar musti menahan diri tidak melakukan kecurangan dengan melompati 32 halaman ketika Frank dan seekor tokek asik berdiskusi mengenai teori evolusi. Gawat!!! Mudah-mudahan sapanjang hidup saya gak akan mengalami pengalaman seperti itu: bertemu tokek yang cerewet dan keras kepala!!

Saya menemukan dialog yang cukup menarik.

Aku bertanya, apakah ia optimis atau pesimis mengenai nasa depan Bumi dan umat manusia jangka panjang.

‘Saya seseorang yang pesimis mengenai masa depan manusia, tapi optimis mengenai bumi.’

Aku mulai memahami sudut pandangnya dan dengan segerapun ia menjelaskan segalanya. Minat Laura terhadap lingkungan ternyata memiliki akar ideologi yang lebih dalam daripada yang kubayangkan. Ia percaya bahwa bumi adalah sebuah organisme yang pada saat ini tengah menderita serangan demam yang akut, tetapi serangan ini adalah sebuah demam yang memurnikan dan akan memastikan bahwa sang ibu itu akan segela membaik.’

‘Sang ibu?’

‘Gaia. Kecuali jika sesuatu yang luarbiasa terjadi, akhirnya ia akan menghancurkan mikroba-mikroba yang membuatnya sakit.’

‘Gaia,’ ulangku menahan nafas.

‘Itu hanyalah sebuah nama yang kami berikan kepada ‘ibu pertiwi’; tentu kita dapat memanggilnya Eartha. Tetapi yang penting adalah menyadari bahwa dunia ini adalah sesuatu yang hidup.’

‘Yang akan menghancurkan mikroba-mikroba.’

‘Berjuta-juta tahun yang lalu, dinosauruslah yang disingkirkan,’ ia memulai. ‘Dan mungkin hal itu tejadi bukan karena jatuhnya meteor. Mungkin mereka menyebarkan penyakit di dunia dan menghancurkan diri mereka sendiri. Saya pernah mendengar suatu teori bahwa kepunahan itu ada hubungannya dengan gas buangan yang dihasilka para dinosaurus. Tetapi Bumi berhasil memulihkan dirinya sendiri, ia terlahir kembali. Kini manusia mengancam kehidupan di Bumi. Kita tengah menghancurkan habitat kita sendiri, dan Gaia ingin menyingkirkan kita..’

Wiiiihhhhh…..

Kepunahan

Jostein Gaarder dalam Maya :

Akhir-akhir ini, kita lebih mudah memercayai berbagai racun, virus, dan zat sterilisasi–dengan kata lain, perang kimia dan biologi. Namun, tak mudah menyusun sebuah rantai makanan baru, seandainya itu memang mungkin dilakukan. Sebaliknya sungguh mudah menghancurkan sebuah keseimbangan ekologi yang telah diciptakan oleh alam selama berjuta-juta tahun.

Saya ini bu guru yang demen nakut-nakutin anak-anaknya heheh.. Tahun kemarin saya sering bikin anak-anak ngeri gara-gara sering ngoceh mengenai global warming dan mendiskusikan itu.
Saya teringat lagi tentang sebuah film dokumenter yang saya beli 2 tahun yang lalu. Sempat saya putar di kelas dua, hasilnya anak-anak semuanya garuk-garuk kepala dan sebagian besar tidur nyenyak. Saya putar lagi tadi pagi untuk kelas 4. Mereka sudah mengerti dan bahkan sampai-sampai menatap sedih sekali. Kelas 4 memang jagoan empati 😀

Yang saya putar adalah episode kedua dari film State of the Planet. Film pertamanya mengenai Global Warming yang bahkan saya sendiri pun sudah sangat bosan mendengarnya. Episode kedua ini mengenai kepunahan. Ini topik yang cukup baru bagi anak-anak, mengejutkan, dan tentu menyudutkan umat manusia atas semua yang terjadi. Hanya yang lebih menyedihkan di topik ini adalah, bila dalam isu Global Warming ada sesuatu yang dapat kita lakukan, dalam film ini diperlihatkan bahwa manusia bukan hanya sumber kepunahan, namun juga apapun yang dilakukan manusia untuk memperbaikinya, justru mengakibatkan bencana ekologi yang lebih besar lagi. Mengancam lebih banyak spesies. Dan kita sedang menghadapi kebuntuan alami. Serem!!

Biar..biarlah saya emang pengen nakut-nakutin anak-anak kecil ini. Saya emang pengen nakut-nakutin anak-anak SD ini. Biar mereka berpikir dua kali jika suatu saat tangannya iseng menyambar daun-daun hanya untuk dibuang-buang. Biar mereka berpikir dua kali, saat ingin memain-mainkan binatang kecil yang mereka temui. Biar mereka semakin sayang pada bumi ini.

Sebab ada hal-hal di dunia ini yang kita tidak akan mendapatkan kesempatan kedua untuk memperbaikinya.