Flash Forward

Saya adalah salah satu orang yang merasa sedih dengan dibatalkannya serial Flashforward oleh ABC untuk season selanjutnya. Alasannya, rating yang terus memblesek turun dan semua promosi yang telah dilakukan oleh ABC ternyata tidak dapat mendongkrak naik.

Diangkat dari novel sains fiksi karangan Robert J. Sawyer, kisah diawali dengan terjadinya global blackout. Seluruh manusia di planet bumi mendadak hilang kesadaran selama 137 detik. Maka, apa yang terjadi? Chaos dimana-mana. Jutaan manusia dikabarkan tewas dalam event yang tak pernah disangka sebelumnya. Sepanjang 137 detik, seluruh pesawat yang sedang mengudara jatuh atau menabrak gedung dan tebing, kecelakaan lalu lintas terjadi di semua jalanan di seluruh dunia, para pasien yang sedang diopreasi atau dalam keadaan darurat meninggal dunia, semua orang yang sedang berada di air terbenam dan seterusnya. Namun, ternyata ini bukan hanya masalah kerepotan menghadapi chaos tersebut.

Selama 137 detik, sepanjang blackout, manusia dihadapkan pada flashforward. Kilasan masa depannya sendiri. Sebuah visi yang akan terjadi pada dirinya pada 6 bulan yang akan datang. Tapi tidak semua orang mengalaminya. Ada orang-orang yang sepanjang blackout hanya mengalami kegelapan total. Asumsi sementara adalah, bahwa orang-orang yang tidak memiliki flashforward ini kemungkinan akan meninggal dunia sebelum 6 bulan ke depan.

Kemudian, apa yang terjadi?

Saat menonton episode pilot, saya menyangka akan terjadi kejadian yang dramatis pada dunia. Pertama, hilangnya nyawa jutaan orang dalam waktu singkat yang kebanyakan tersentral pada beberapa tempat (di kota-kota dan belahan bumi yang sebagian besar penduduknya sedang aktif berkegiatan) mungkin akan mengakibatkan ketidakseimbangan. Belum lagi dampak psikologis yang pastinya akan dialami oleh banyak orang baik yang mengalami ’gelap total’ maupun yang mendapatkan flashforward. Saya membayangkan adanya histeria masa, atau kelompok-kelompok religius aneh. Tapi, ternyata saya hanya terlalu kemakan Mars Attack! aja, huehehe.. Serial ini memfokuskan kisah pada lingkup tertentu saja.

Sebuah tim dari FBI Los Angeles dibentuk untuk menyelidiki kasus blackout ini. Tugas mereka adalah untuk mencari tahu apa yang sesungguhnya terjadi, kenapa, dan apakah ada kemungkinan akan terjadi lagi. Tim ini dikepalai oleh Mark Benford. Benford berkontribusi secara unik karena dalam flashforwardnya, dia melihat dirinya sendiri sedang menyelidiki kasus dan kemudian mencoba merekonstruksinya berdasarkan ingatannya tersebut. Well, disinilah ketertarikan saya dimulai karena kita memasuki paradoks waktu!

Apa yang terjadi jika manusia dapat mengarungi waktu? Dalam perdebatannya, ada pendapat mengatakan bahwa jika manusia mencoba merubahnya, maka akan terdapat semesta-semesta paralel. Kemudian pendapat yang lain mengatakan bahwa tidak akan terjadi karena waktu adalah salah satu dari 4 materi pembentuk The Big Bang. Bagi manusia yang menyandarkan pada kepercayaan atas takdir, bahwa jikapun manusia, secara sengaja maupun tidak sengaja dapat mengarungi waktu, maka itu tidak akan mengubah apa yang sudah dituliskan. Maktub. Bagaimanapun tidak akan berubah.

Saya jadi teringat pada diskusi singkat mengenai pemikiran agama dengan beberapa kawan membahas takdir. Saat itu kita membahas beberapa dalil naqli berkaitan mengenai takdir yang kemudian menimbulkan perdebatan yang cukup hangat. Tidak disarankan untuk melakukan hal-hal semacam ini jika gak suka filsafat agama, euy!

Kembali ke flashforward, dan semua keantusiasan saya ambruk dengan satu jab singkat dari teman serumah saya: ini bukan masalah kembali, tapi apakah.

Weeeks, bener juga. Jadi sesungguhnya, lebih simple pertanyaannya. Apakah yang akan terjadi memang seperti itu, ataukah bisa meleset? Apakah bisa manusia merubah apa yang telah ditakdirkan untuknya?

Karena masa depan yang diperlihatkan ini hanya 6 bulan ke depan, maka kebanyakan manusia tidak melihat hal-hal signifikan yang terjadi. Seorang bartender misalnya, menyatakan bahwa yang dia lihat adalah dia duduk di tempat persis dia duduk saat blackout terjadi, dan berhadapan dengan orang-orang yang sama. Pelanggan-pelanggan tetapnya. Membosankan. Seperti flashforwardnya Stanford Wedeck, kepala FBI Los Angeles, yang melihat dirinya sendiri sedang duduk di toilet sambil membaca Koran.

Tapi bagi sebagian lagi, ini memberikan harapan baru.Bryce Varley misalnya, seorang dokter bedah, sahabat dari istri Mark Benford. Beberapa saat sebelum blackout, dia sedang bersiap untuk menembak dirinya sendiri. Ini dilakukan setelah menerima vonis bahwa dia menderita kangker, dan kemungkinan hidupnya singkat. Dia adalah seorang dokter, dan ayahnya penderita kangker. Dia tahu seberapa buruk apa yang akan harus dihadapinya nanti. Tepat saat Varley menarik pelatuk, blackout terjadi. Tembakannya meleset, dan dia melihat dirinya sendiri berada di suatu restoran berhadapan dengan seorang gadis jepang, dan dia jatuh cinta kepadanya. Saat bangun, dunia bagi Bryan Varley berubah. Dia tahu bahwa dia bukan hanya akan kuat menghadapi apa yang terjadi, namun juga akan mendapatkan hal yang membahagiakan dalam hidupnya. Dia tidak mau kehilangan moment itu. Hal yang sama terjadi pada Felicia Wedeck, istri Stanford Wedeck. Dalam flashforward, dia melihat dirinya sendiri sedang menidurkan seorang anak laki-laki yang memanggilnya ibu. Felicia tidak tahu siapa anak laki-laki tersebut, tapi saat terbangun, dia tahu bahwa dia sudah menyayanginya.

Bagi Aaron Stark dan Janis Hawk, apa yang mereka lihat dalam flashforward adalah hal yang membingungkan. Aaron Stark adalah sahabat Mark Benford. Seorang mantan alkoholik dan pensiunan tentara. Dalam flashforwardnya, dia melihat dirinya sendiri sedang berada di suatu tempat yang nampaknya seperti di timur tengah, duduk, dan merawat puterinya yang terluka parah. Masalahnya, puterinya ini dikabarkan telah terbunuh di Afganistan beberapa tahun yang lalu. Sementara itu Agen FBI Janis Hawk yang merupakan salah satu tim penyelidik flashforward menemukan dirinya sendiri hamil, di USG, dan seorang perempuan memberi tahu bahwa anaknya perempuan. Janis adalah seorang single dan seorang lesbian. Ini membuatnya bingung dan memilih untuk menjauh dari prospek hubungan asmara.

Agen FBI Demetri Noah, sahabat Janis Hawk, yang tidak memiliki flashforward mengalami naik dan turun secara emosional. Apakah ini berarti dia akan mati sebelum 6 bulan yang akan datang? Kalau iya, bagaimana dia akan mati? Bisakah dia mencegahnya? Sementara itu Zoey Andata, tunangan Demitri nampaknya mengalami flashforward yang sama sekali gak nyambung dengan dirinya. Zoey menyatakan bahwa dia melihat dirinya sedang di Hawai, dan sedang menikah dengan Demitri. Dan dia menyatakan bahwa dia melihat Demitri. Namun kemudian, setelah beberapa event dan ingatan yang lebih jelas, dia menyadari bahwa mungkin, dia tidak sedang menikah. Mungkin, dia melihat dirinya sendiri dalam upacara pemakaman.

Tidak semua flashforward yang dialami para tokoh itu bagus. Nicole Kirby, babysitter keluarga Benford menemukan dirinya sendiri sedang dibunuh pada flashforwardnya. Dia ditenggelamkan oleh seorang laki-laki yang tak dikenalnya, dan dia merasa bahwa dia layak untuk diperlakukan seperti itu. Sementara dr. Olivia Benford yang pada saat blackout sedang di meja operasi menemukan dirinya sedang di tempat tidur dengan seorang laki-laki yang bukan suaminya(laki2 yang bersama Olivia
ini akan muncul sebagai Dr. Lloyd Simco, seorang ilmuwan fisika kuantum akan berkontribusi dalam penyelidikan). Ini membuat Olivia tertekan oleh perasaan bersalah, yang kemudian menempatkan rumah tangganya dalam keadaan krisis. Dan, apa yang akan Anda lakukan jika Anda menemukan diri sendiri sedang menghadapi seseorang yang sedang menyampaikan berita bahwa ayah Anda sudah tewas?

Episode-episode pertama nampaknya setia dengan pernyataan bahwa apapun yang kita lakukan, tetap akan terjadi seperti itu. Walaupun sekuat tenaga kita berusaha menghindarinya. Namun kemudian, keputusan-keputusan yang diambil para tokoh nampaknya mulai berani, dan membuka petanyaan lebih besar, apa yang terjadi kemudian? Jika seseorang yang dalam flashforwardnya menemukan dirinya tanpa sengaja membunuh seseorang, lalu demi menyelamatkan orang yang tak dikenalnya itu, dia membunuh dirinya sendiri, dan berhasil. Apakah yang terjadi kemudian? Apakah dunia berubah? Karena pastilah perubahan-perubahan yang diambil ini akan memberikan kenyataan-kenyataan baru.

Future Shock, episode penutup dari serial ini memberikan pada kita jawaban dari pertanyaan ‘apakah akan seperti itu kenyataannya atau berubah’, tapi belum memberikan jawaban mengenai beberapa hal termasuk hal-hal yang paling penting. Atau paling tidak, semuanya terkesan dipaksakan. Mungkin wajar mengingat bahwa ABC sudah ketuk palu untuk tidak melanjutkan serial ini sementara pada awalnya, ini sudah dirancang sampai kepada season 5. Pokoknya bener-bener bikin melongo ‘hah?’ karena kok masih rada mengambang? Apalagi plotnya yang dari awal ngikutin gaya Lost banget yaitu kita disajikan potongan-potongan kisah tiap tokoh dengan bertahap dan pelan semakin mendalam. Jadinya sampai akhir yang terlalu cepat dari rencana, tidak dapat dikejar untuk terbuka semua. Atau, masih ada harapan flashforward akan tetap dilanjutkan baik itu oleh ABC atau diambil alih stasiun TV lain? Well, yang pasti, para penggemarnya masih berusaha untuk ’merayu’ pihak ABC untuk melanjutkan.

Musuh Batman: Joker


The Joker , diciptakan oleh Jerry Robinson, Bill Finger dan Bob Kane.

“Sometimes I remember it one way, sometimes another… if I’m going to have a past, I prefer it to be multiple choice!”

Joker adalah seorang psiko-kriminal yang penuh dengan kekerasan. Dalam kisah Batman versi apapun, Joker selalu ada dan menyebabkan berbagai macam tragedi. Bahkan dalam kehidupan pribadi Batman.

Identitas Joker yang asli tidak pernah jelas, bahkan namanya tidak pernah terungkap. Joker sendiri sering kebingungan mengenai apa yang sebetulnya terjadi pada dirinya. Dalam Detective Comics#168, Joker dikenal sebagai Red Hood. Di kisah ini, dia adalah seorang ilmuwan yang mencoba mencuri dari perusahaan tempat dia bekerja. Kejar-kejaran dengan Batman, Joker jatuh ke dalam genangan sampah kimia yang mengelupas kulitnya, merusak rahang dan mengacaukan pikirannya.

The Killing Joke mengungkap bahwa Joker sesungguhnya adalah seorang teknisi di sebuah perusahaan kimia yang meninggalkan pekerjaannya untuk menjadi pelawak, impiannya yang sesungguhnya. Namun dia gagal dan jatuh melarat. Untuk menyuport istrinya yang sedang hamil, dia terpaksa mau diajak kerjasama oleh dua orang kriminal yang berencana merampok perusahaan tempatnya dulu pernah bekerja. Saat membantu dua kriminal itu, istri Joker di rumah mengalami kecelakaan yang menewaskannya bersama bayi yang sedang di kandungnya tersebut.

Joker dan dua kriminal segera tertangkap oleh petugas keamanan, lalu bekejar-kejaran dengan Batman yang segera tiba di tempat. Joker jatuh ke dalam genangan sampah kimia yang merusak tubuhnya. Tidak tahan dengan segala yang terjadi, Joker akhirnya kehilangan kewarasannya.

Kisah lain menyebutkan bahwa dia adalah seorang anggota gangster yang sadis yang bekerja pada sekelompok mafia di kota Gotham. Pada suatu hari, disiksa lalu kabur dan tanpa sengaja, tersiram cairan kimia yang merusak tubuhnya.

Joker adalah musuh terbesar Batman, korban-korbannya adalah siapapun, termasuk orangtua dan anak-anak. Dia adalah mesin pembunuh yang tidak pernah ragu menghabisi nyawa seseorang. Dalam Novel The Joker: Devil’s Advocate, terungkap bahwa Joker telah membunuh lebih dari 2000 orang, dan membuatnya mendapat hukuman mati ratusan kali. Namun dia selalu mendapat keringanan karena dianggap tidak waras.

Dalam banyak kisah, Batman berulang kali mendapat kesempatan untuk membunuh Joker, namun tidak pernah dilakukannya. Di lain pihak, Joker pun berulang kali mendapat kesempatan untuk membunuh Batman, yang jelas tidak akan dilakukannya. Joker pada akhirnya menjadi terobsesi untuk menjelma sebagai bayangan dari Batman, menikmati setiap duel, dan selalu berusaha meyakinkan Batman bahwa mereka berdua sesungguhnya sama. Sama-sama tidak waras.

Dalam Seri TV, Joker digambarkan sebagai seseorang yang tidak berhenti tertawa dan seorang kriminal yang super konyol. Dia mengacaukan kota dengan cara menghentikan suplai air bersih menjadi jelly yang lengket, memukul Batman sambil surfing, dan merampok bank sebagai kegiatan rutin yang menyenangkan. Dalam layar lebar Batman, Jack Nicholson memerankan Joker sebagai seorang anggota gangster yang narsis abis bernama Jack Napier yang terjatuh dalam cairan kimia saat berkelahi dengan Batman. Kerusakan wajahnya tambah parah saat dia terpaksa dioperasi plastik di sebuah klinik tidak jelas. Dia lalu mulai stress yang akhirnya membuatnya gila, lalu mulai mengejar-ngejar Batman. Pada akhir kisah diketahui bahwa Joker ternyata adalah salah seorang perampok yang membunuh orangtua Bruce Wayne.

Dalam film Batman yang terakhir, The Dark Knight, tokoh The Joker menjelma menjadi lebih realistis dan mengerikan. Joker yang tadinya digambarkan sebagai orang sinting super duper konyol, lalu gangster yang narsis kronis, sekarang menjelma menjadi seorang psikopat, pembunuh masal, dan penderita schizophrenia yang sama sekali tidak memiliki empati dan terobsesi pada Batman. Dia digambarkan sebagai orang yang mampu dan selalu berbuat semau-maunya tanpa merasa terbebani dengan apapun, dan berhasil menciptakan chaos di Gotham City. Dalam kisah Batman yang terakhir ini, Joker tidak menang namun juga tidak sepenuhnya kalah. Dia berhasil merubah seorang pahlawan jatuh dan menjadi seorang kriminal.

Joker adalah karakter unik yang susah dipahami. Heath Ledger, pemeran Joker dalam The Dark Knight, mengumpulkan seluruh kisah mengenai Joker yang ada, dalam usaha untuk memahami karakter. Dia bahkan mengurung dirinya sendiri dalam sebuah hotel selama sebulan, merasakan kesepian yang diderita oleh sang tokoh. Berusaha membangun kepribadian dan bahkan membuat diary yang mencatat pemikiran dan perasaan Joker. Nampaknya pada akhirnya memang Heath Ledger-lah yang berhasil memahami Joker dengan sangat baik. Joker bukan hanya orang kurang waras yang senang menciptakan chaos, namun dia sendiri pun adalah chaos. Seperti kata Ledger:

“There’s a bit of everything in him. There’s nothing that consistent,”

Almost Alice

From the moment I fell down that rabbit hole,
I have been told what
I must do and who I must be.
I’ve been shrunk, stretched,
scratched and stuffed
into a teapot.
I’ve been accused of being Alice
and of not being Alice,
but this is my dream.
I’ll decide where it goes from here!

Espektasi saya terlalu tinggi aja kayaknya untuk film ini makanya jadinya kecewa berlebihan. Maksud saya, Tim Burton. Sutradara fave saya nomor dua setelah M. Night Shyamalan. Yaaa, yaa… M. Night Shyamalan kan cuma keren di indera keenam dan desa! Terserah! Pokoknya saya suka M. Night Shyamalan!

Gak sabar nunggu Aang jadi orang..

Kembali ke Alice.

Begitu tau Tim Burton mau bikin film yang diangkat dari karya klasiknya profesor matematika yang kabarnya super kiler bin galak naujubile yaitu Charles Lutwidge Dodgson yang menyamar sebagai Lewis Carol itu, saya langsung nyengir selebar-lebarnya.

Pasti sama Abang Depp dan Mbak HBC. Ditungguuuu!!!!!

Beberapa saat sebelum nongol, langsung lemes sejadi-jadinya. Beuh!!! Gak nyontek dari karya asli tapi yang diceritain adalah si Alice balik lagi ke Wonderland setelah 13 tahun berlalu. Kecewanya sama kayak pas tahu setelah nunggu-nunggu bahwa Journey to the Center of the Earth yang jadi film itu bukannya adaptasi dari novelnya, si keren dan jagoan sains fiksi klasik Jules Verne.

Jadi males nonton.

Tapi nonton juga akhirnya.

Dan karena udah kecewa duluan maka selama nonton saya cuma ‘ah’ dan ‘uh’ aja. ‘ah’ ‘uh’, ‘haaaaaaaaaa!!!!’… Sampe temen nonton saya suebel banget dan nekad tukeran kursi sama sebelahnya yang kebingungan tapi dengan alasan yang misterius, mau aja…

Najissss!!!!

Abis adegan pertamanya aja udah bikin semangat makin ambruk. Bapaknya Alice ngobrol dengan rekan bisnisnya dan bilang bahwa punya rencana ekspansi ke Bangkok dan Jakarta. Duileeeeeh.. Emangnya bapaknya si Alice itu diceritain bisa liat masa depan gitu ya kok tau kalo Batavia waktu itu bakalan berubah nama jadi Jakarta? Hebuat bener!!!

Trus Alice kecil nongol. Mimpi. Bapaknya nganter tidur. Saya membelalak sebab Alice pake make up! Waduh, jangan-jangan penata artistik, make up dan costum film ini orang Indonesia pekerja sinetron. Lahdahlah!

Make up pastilah dipake, tapi masa sih keliatan banget gitu? Anak kecil gitu, loh! Dan kalaupun he-eh jaman itu para gadis kecil udah pake make up, tapi gak sesuai dengan karakter Alice yang independen dan karakter bapaknya yang rada hobi ngedobrak budaya saat itu. Yeah, paling enggak, kontradiksi sama kehangatan si bapak yang merupakan gak lazim pada zaman victoria.

Saat ngobrol sambil makan malam sama temen nonton, dia bilang acting Alice kaku banget! Gasuka gasuka…. Kurang ekspresif. Saya malah gak sependapat. Untuk masalah itu, saya kira, karakternya pas. Alice kan cewe yang hidup dalam kepalanya. Jadi tepuat, tuh! Yang bikin heran adalah saat si Alice kabur semerta-merta di tengah lamaran orang demi mengejar kelinci. Dia kan udah remaja. Bahkan bisa dibilang, untuk ukuran saat itu, dewasa! Maka mengherankan banget tau-tau bisa ngacir gitu aja. Dia pemberontak, di dalam dirinya.

Kecuali kalau dia anak kecil.

Nah, nah.. Kan. Jadi ribet. Lagian sih Alice-nya pake udah gede. Masih kecil aja kenapa, sih!

Gak pantes pula kan untuk orang segede itu dengan enaknya minum cairan yang dia gak tau hanya karena ada tulisan ‘minum aku’ dan makan kue dengan judul ‘makan aku’. Paling tidak, harusnya begitu jatuh, dia gedor-gedor dinding, kek! Tereak-tereak, kek! Panik gitu!

Sebenernya sih dalam hal visualisasi wonderland-nya teteup…sesuai dengan reputasi Tim Burton. Daya imajinatif yang nyolot hingga merindingkan badan. Saya lebih suka visualisasinya Tim Burton daripada film sebelumnya yang ceria ceria ceria..!!! Beuh, gak kebayang kalau Wonderland nongol dari kepalanya Andrew Adamson… Nanti bahkan si Caterpillar pun nyanyi nari lagi…Ouch!

Karena biar bagaimanapun, ada suatu kengerian pada zaman Victoria..

Bicara tentang hening, mungkin inilah yang membuat saya selalu menunggu karya TB. Kita sebagai penikmat diberikan hela untuk perenungan ke dalam. Gak ada distraksi dari tokoh yang gak bisa berhenti bicara.

Saya bosan dengan Abang Depp disini. Mungkin karena yang dimainkannya bukan lagi sebuah kejutan. Sama aja kayak Willy Wonka. Udah gitu Anne Hathaway yang melambai lambai menyeramkan itu kok jadinya malah saya simpati sama The Red Queen-nya Mbak HBC. Well, emangnya si Ratu Merah ini karakter kisah ini yang paling nanceb bahkan lebih dari Alice kalo kata saya. Bahkan di film ini pun masih. Dan, HBC memerankannya pas banget! Sungguh meledakkan ekspektasi saya, namun tak sampai over! Saya tertawa terbahak-bahak tiap kali Ratu berteriak:

PENGGAL KEPALANYA!!!

Orang2: Ssst….

Ngomong masalah si Ratu ini kan katanya merupakan pengjawantahan dari Ratu Victoria. Mungkin itulah kenapa si penulis pake nama samaran segala. Ternyata kabarnya Ratu Victorianya sendiri fans-nya Lewis Carol dan bahkan sampe nulis surat minta dikirimin lagi karya lainnya. Si Prof yang bingung akhirnya ngirim Ratu Vic dengan buku lain yang ditulisnya yaitu teori matematika apalah gitu, hihi… Pakabar tuh ya!!

Eniwey, walaupun banyak kecewa dengan cerita, bukan visualisasi yang menurut saya tetep okeh banget, tapi paling tidak, saya mungkin ngerti kenapa Alice in Wonderland musti dipermak menjadi, seharusnya, Back to Wonderland. Kenapa?

Mungkin jawaban tiap orang itu beda.