The Breakfast Club

…and these children

that you spit on

as they try to change their world

are imune to your consultation

They quite aware

Of what they going trough…

David Bowie

Pada hari Sabtu, 24 Maret 1984, lima orang remaja terjebak di sekolah. Mereka berlima dihukum, atas apa yang mereka masing-masing lakukan. Continue reading “The Breakfast Club”

Advertisements

Jostein Gaarder dan Klaus Hagerup: Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken

Namun, pada saat itu aku pun tahu bahwa setiap kali membuka sebuah buku, aku akan bisa memandang sepetak langit. Dan jika membaca sebuah kalimat baru, aku akan sedikit lebih banyak tahu dibandingkan sebelumnya. Dan segala yang kubaca akan membuat dunia dan diriku sendiri menjadi lebih besar dan luas.

 

Nils dan Beriet adalah dua anak berusia 13 tahun yang terpisah. Mereka memiliki sebuah ide brilian, yaitu membuat buku surat. Saling menulis surat, namun di dalam sebuah buku yang dikirim bolak-balik, sehingga jadi seperti memiliki buku harian bersama. Atau sebuah kisah yang ditulis bersama-sama.

 

Dimulai ketika Berit menceritakan suatu kisah yang sangat ganjil. Dia bertemu dengan seorang perempuan yang mencurigakan yang bernama Bibi Bokken, dan mencuri sepucuk surat dari si perempuan. Isi suratnya menyebutkan tentang adanya sebuah perpustakaan yang dalam koleksinya berisi buku-buku yang belum pernah diterbitkan. Nah loh! Bagaimana bisa? Surat tersebut merujuk satu buku berjudul Perpustakaan Ajaib dan akan terbit tahun depan.

 

Bagi orang dewasa, mungkin akan segera berpendapat bahwa perpustakaan itu bisa saja adalah bagian dari suatu perusahaan penerbitan. Buku-buku yang berada di sana, ya..isinya mungkin memang buku-buku yang belum beredar. Tapi bagi Nils dan Berit, ini super duper menarik. Hebuat sekali!! Ada suatu perpustakaan yang koleksinya berisi buku-buku yang belum pernah ada.

Mengherankan!!! Continue reading “Jostein Gaarder dan Klaus Hagerup: Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken”

Max Havelaar atau Lelang Kopi Maskapai Dagang Belanda

Sastra adalah sebuah dusta, namun dusta yang menyingkap kebenaran

(Charles Dickens)

Membahas novel ini, mau gak mau musti membahas penulisnya. Eduard Duwes Dekker telah tinggal di Indonesia selama lima belas tahun. Kenyataan ini penting untuk diketahui, karena masa menetap yang lama itu tidak hanya memberikan kepadanya pokok bercerita yang menggugah perhatian, yaitu ketidakadilan yang berlaku di Indonesia pada masa pemerintahan kolonial Belanda, tapi juga menentukan pertumbuhan dirinya sebagai pengarang yang berarti dalam sejarah sastra.

Ia lahir pada tahun 1820 di Amsterdam dan pertama kali menginjak Indonesa pada tahun 1839. Jenjang kerjanya dimulai dari menjadi pegawai Dewan Dinas Keuangan di Batavia, lalu menjadi kontelir di Natal, kemudian menjadi asisten residen di Lebak. Pada tahun 1856, Dekker kembali ke eropa dan disanalah ia menulis karangannya, Max Havelaar, antara bulan September sampai bulan Desember 1859 yang kemudian terbit pada tahun 1860. Tahun-tahun terakhir hidupnya ia tinggal di Neider-Ingelheim, Jerman.

Pada tahun 1856 saat baru diangkat menjadi asisten residen di Lebak, Dekker menuduh bupati Lebak telah melakukan pemerasan dan penindasan terhadap rakyatnya sendiri, dan perkara ini dilaporkan kepada residen, dan kemudian kepada Gubernur Jenderal. Kedua atasannya ini rupanya tidak percaya akan kebenaran tuduhan Dekker yang juga menolak memberikan bukti-buktinya. Merasa kecewa, Dekker mengajukan pengunduran diri yang diluluskan oleh pemerintah Hindia Belanda pada tanggal 4 April 1856. Kejadian ini perlu diulas karena itulah peristiwa yang pada akhirnya menjadi dasar dari Max Havelaar. Itulah inti masalahnya. Max Havelaar adalah surat pembelaan diri yang bisa dikatakan adalah suatu upaya terakhir Dekker untuk memulihkan nama baiknya sediri. Pada akhirnya, Max Havelaar malah bisa dikatakan menjadi pamphlet politik sebab di dalamnya terdapat gugatan kepada Raja Belanda untuk mendatangkan keadilan di negeri jajahannya, supaya rakyat tidak lagi ditindas demi kemakmuran penduduk Belanda.

Bahwa nun disana, rakyat Tuan yang lebih dari 30 juta sedang dihisap atas nama Tuan..

Itu adalah kalimat penutup yang menekankan kepada siapa kisah ini sebenarnya ditujukan.

Continue reading “Max Havelaar atau Lelang Kopi Maskapai Dagang Belanda”