Earth 2100

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).

(QS Arrum: 41)

Earth 2100. Sebuah film documenter yang menggambarkan, atau lebih tepatnya, membayangkan bagaimana raut bumi pada tahun 2100 jika kita, umat manusia, masih perperilaku seperti saat ini. Artinya, segala pemborosan dan polusi yang kita buat.

Yayaya… Iyaaaa, saya tahu! Lagi-lagi cerita tentang global warming… Capek, deeeh!

*tepok jidat tetangga!

But, here’s the deal.. Walaupun banyak film documenter tentang global warming, bagaimanapun anda memutuskan untuk menyikapinya, namun rasanya seakan selalu saja kepala ini rasanya digelepak oleh penyadaran yang seakan-akan, sekali lagi, kita baru saja dibangunkan.

Kali ini, tentang BBM.

Pada awal film dikisahkan bahwa manusia gak pernah sadar bahwa kita memakai bahan bakar yang terbatas. Suatu saat akan habis. Okeh, manusia sadar dan tahu, tapi tidak berperilaku sesuai yang dipahaminya tersebut.

Kita beli mobil tambah banyak seakan minyak selalu akan ada dan terjangkau.

Walaupun sesungguhnya kita masing-masing tahu bahwa minyak tidak akan selamanya ada dan akan berada jauh dari jangkauan dalam waktu dekat! Tapi toh kita membuat diri sendiri semakin tergantung kepadanya.

Contohnya, kalo gak ada kendaraan pribadi. Jika suatu saat kita terpaksa kudu musti naik kendaraan umum, itu sewotnya gak ketulungan sampe kalo bisa sejagat maya ikutan ruwet ngedepin ocehan kita lewat status atau kicauan burung nan indah!

Idiiih, mangkanya itu si sayah koar-koar sama anak-anak kecil tiap ada kesempatan. Nak, nak…jangan GR dulu dan mengkhayal dulu punya mobil banyak, yee.. Kayaknya jaman kalian nanti jangan-jangan harga bensinnya lebih mahal daripada harga mobil.

Yaa, mudah-mudahan sih jaman kalian udah nungul dan udah diproduksi secara masal itu kendaraan-kendaraan bertenaga surya, listrik, nuklir atau berbahan bakar tai kotok kek (saya pernah nonton pilm tentang masa depan krisis minyak dan mobil berjalan dengan bahan bakar tai kotok, lowh!).

Kemudian..

Kita menambah besar rumah yang artinya menambah daya listrik. Sekali lagi, listrik temanku, berasal dari minyak bumi juga. Memang ada yang menggunakan tenaga air, tapi jumlahnya terbatas. Memang ada yang menggunakan batubara, tapi kita harus ingat dengan ambang batas karbon. Ingat bahwa global warming saat ini adalah dampak penggunaan batubara yang berlebihan pada abad yang lalu.

Memang ada yang menggunakan nuklir, yang cukup kecil dampak pencemarannya, tapi teknologinya dikuasai oleh beberapa negara saja. Ditambah resiko yang luar biasa besar. Selama stabil, nuklir memang nyaris tidak mengakibatkan pencemaran tapi saat tersentil sedikit saja, bencananya bisa sampai beberapa puluh tahun ke belakang.

Kemudian, setiap orang di muka bumi ini menambah kebutuhan akan bahan bakar. Tapi bahan bakar terus berkurang. Harganya merangkak naik dan terus naik. Hebatnya, kita tau kalau bahan bakar minyak bumi akan habis, tapi tidak mau tahu juga. Pokoknya harus ada! Pokoknya harganya gak boleh naik!

Begitu harga minyak naik, mayarakat menyalahkan siapapun (presidennya dan apapun partainya!) tanpa mau ngeh bahwa itu adalah kosekuansi dari pemborosan kita.

Begitu harga listrik naik, semua marah dan menyalahkan!

Hingga pada akhirnya, minyak benar-benar langka dan pastinya hanya mampu diborong oleh beberapa negara kaya saja. Kita mau gimana?

Download Earth 2100 disini

Advertisements