Boston Med

Saya menemukan film ini di tempat download pada bagian documenter. Tentu saja, itu bagian yang paling sering saya ubek-ubek sekaligus bagian yang paling jarang di update nampaknya. Melihat episodenya yang ampe delapan biji itu, sungguh diluarkebiasaan saya sebenernya juga , sih, ya, pake ngebela-belain download seluruhnya. Kalo banyak gitu mah mendingan beli aja, ya, nggak? Membuat tertarik adalah bahwa ini adalah konon kabarnya ini lanjutan, atau terinspirasi dari seri Hopkins, serial documenter yang sudah cukup lama saya cari-cari. Penasaran aja pengen lihat bagaimana sih rapihnya sekaligus rusuhnya manajemen dan warna-warni John Hopkins Hospital yang katanya merupakan rumah sakit sekaligus teaching hospital (terjemahan enaknya apa ini?) terbaik di Amerika Serikat itu.

Sampai sekarang belum nemu dimana bisa download seri diatas itu dengan versi paket hemat sekaligus ngebut kecepatannya. Dan apalagi kepingan DVD-nya, deh!

Kalo nyari seri TV para istri yang depresi itu banyak!

Jadi berbeda dengan Hopkins yang hanya disorot satu rumah sakit saja, pada Boston Med kita diperlihatkan bagaimana kegiatan berlangsung dan berputar pada tiga rumah sakit yaitu Massachusetts General Hospital, Brigham and Women’s Hospital, dan Children’s Hospital Boston. Tiga-tiganya merupakan rumah sakit terbaik di Amerika Serikat dan tiga-tiganya merupakan teaching hospital-nya Harvard Medical School.

Sebenernya saya lebih tertarik mengenai bagaimana manajemen di tiga rumah sakit ini di jalankan. Tapi ternyata ini yang dikisahkan rada jauh dari itu. Lebih mengupas bagaimana riuhnya kesibukan serta hubungan dan perasaan-perasaan para pekerja kesehatan serta para pasiennya. Pertama-tama itu agak membuat saya bingung dan menyangka bahwa ini bukan documenter melainkan mockumenter. Anda tahu kan dengan istilah baru yang diberikan untuk menjelaskan film-film dengan gaya menceritaan yang dibuat mirip dengan film documenter. Tapi setelah sedikit browsing dan menemukan para tokoh yang diceritakan adalah orang-orang yang nyata dan benar-benar bekerja di rumah sakit tersebut, barulah saya benar-benar percaya bahwa ini memang documenter.

Karena terlalu seru saja kalau dikatakan film documenter. Terlalu luarbiasa kejadian-kejadiannya.

Kita seperti menyaksikan serial ER atau Grey Anatomy dengan gaya yang berbeda. Ada drama-drama yang cukup tinggi di seri documenter ini. Ada kekisruhan yang mungkin memang kejadian sehari-hari yang biasa. Bagaimana tidak, pada episode pertama saja kita sudah dipertemukan dengan seorang nenek yang menunggu donor paru-paru untuknya tersedia. Kemudian ada lagi seorang petugas polisi yang masuk ER karena tertembak mukanya. Peluru nyangsang di rahang di saat kita diputer pada rusuhnya dokter yang musti mencari-cari donor paru-paru. Kemudian, ya ampun, itu jalannya operasi meni diperlihatkan cukup heboh euy! Adik saya sampai menyusrukan kepalanya ke bantal saat melihat adegan para dokter mengeluarkan paru-paru dari dadanya si nenek.

Belum lagi kericuhannya yang kadang bikin bertanya-tanya juga: lah, ini beneran rumah sakit terbaik di US, nih?

Ada dokter yang memompa dada pasien sambil naik ke atas tempat tidur sekalian jongkok tepat diatas muka pasiennya sambil itu pasien disorong ke ER. Ya Allah, ini saya yang ngeliatnya ampe bingung mau ketawa atau komentar… Yah, untung aja gak ada keluarga pasiennya yang ngeliat kejadian itu, deh! Belum lagi saat diperlihatkan jalannya operasi yang gak seperti kayak yang kita lihat di film seri drama kedokteran di mana ruangannya sepi dan relative tenang. Ini orangnya seabrek-abrek, jek! Sampe geleng-geleng kepala liatnya. Ampun, deh, itu lagi ada operasi atau obral baju anak murah buat lebaran, ya?

Kerusuhan di RS bukan satu-satunya yang diperlihatkan. Kita juga sempat diajak ikut untuk melihat bagaimana kehidupan pribadi para tokohnya baik itu dokter maupun pasien. Kita diajak untuk ikut menjadi saksi tahap demi tahap kesembuhan dan pulihnya pasien sementara pada saat yang bersamaan kita juga diajak melihat bagaimana drama kehidupan para pekerja kesehatannya. Bagaimana mereka saat berperan sebagai seorang ayah atau seorang anak. Kita juga sempet dicurhatin sedikit permasalahan-permasalahan pribadi mereka yang lebih focus terutama mengenai kurangnya waktu untuk keluarga. Ada yang diputusin oleh pacarnya atau curhat karena menjadi jomblo abadi. Ada juga ditinggal oleh partnernya (tokoh ini lesbian)yang kabur membawa anak mereka.

Ada cuplikan yang bikin saya nyengir saat seorang dokter bedah meninggalkan ruang operasi masih pake baju dines itu ngacir ke toko bunga lanjut ke sekolah tempat puterinya sedang berada di atas panggung dan menari balet. Dan, tentu, ada juga drama cinta lokasi disini.

Pada akhirnya sih, walaupun agak kecewa karena tidak seperti yang diharapkan sebelumnya, namun menyaksikan seri documenter ini cukup menyenangkan.

Download Boston Med disini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s