The Earl of Oxford

All art is political, Jonson, otherwise it would just be decoration. And all artists have something to say, otherwise they’d make shoes. And you are not a cobbler, are you Jonson.

Edward de Vere, The Earl of Oxford

Siapa yang gak pernah dengar nama William Shakespeare? Ditabok! Dia dikenal sebagai dramawan terbesar sepanjang masa (untuk saat ini) yang telah menerbitkan 37 drama dan 154 soneta. Tapi, yah, memang sudah menjadi pembicaraan umum (serius dan gak serius) bahwa apakah William Shakespeare si penulis drama adalah orang yang sama dengan aktor gagal dari Stratford-upon-Avon, Warwickshire Inggris itu, ataukah hanya nama pena dari orang lain. Sampai saat ini secara resminya diakui bahwa mereka orang yang sama.

Berbarengan dengan itu, para ahli mempunyai pendapat lain mengingat bahwa William Shakespeare yang itu adalah orang yang buta huruf meninggalkan anak-anak juga buta huruf, serta ‘menghilang’ secara tiba-tiba setelah 37 dramanya terbit, nampaknya sungguh tidak mungkin. Apalagi jika mengingat bahwa karya Shakespeare memiliki perbendaharaan kata yang luas dan kaya serta bahkan menambah sejumlah kosa kata yang baru baik dari serapan bangsa asing maupun kata yang betul-betul baru. Tentu saja sangat mustahil untuk menyatakannya sebagai karya dari orang yang tidak dapat membaca.

Namun apa betul dia tidak dapat membaca? Continue reading “The Earl of Oxford”

Advertisements

Nicotine Patch dan iPhone II: Sir Boast-a-Lot

Baca dulu ini kalo mau nyambung.

Tulisan ini sebenernya telah dibuat pada tanggal 24 Januari 2012 dan terlupakan, hehe… Tapi emang rencananya mau di post belakangan untuk menunggu waktu biar gak spoiler. Tapi ini memang spoiler.

Hallo. Are You ready for the story? This is the story of Sir Boast-a-Lot. Sir Boast-a-Lot was the bravest and cleverest knight  at the round table. But soon the other knights began to grow tired of his stories about how brave he was and how many dragon he’d slain. And soon they began to wonder, ‘Are Si Boast-a-Lot’s stories even true?’.

So All the knights went to King Arthur and said, ‘I dont believe Si Bost-a-Lot’s stories. He just a big old liar who make things up to make himself look good.’
And then, even the King began to wonder.

But that wasnt the end of Si Boast-a-Lot problem. No. That wasnt the final problem.

The End.

Saya akhirnya menyaksikan seri TV  Sherlock yang episode terakhir juga setelah dua minggu berada di dalam hardisknya  si Lenored, laptop saya, hehe.. Bukan karena terlampau sibuk untuk menyaksikannya, tapi karena sayang.

Saya tahu itu akhir dari kisah yang pada saat itu masih gak jelas apakah BBC akan melanjutkan drama ini lagi atau enggak. Dari judulnya pun udah taulah bagaimana akhirnya. The Reichenbach Fall. Itu nama air terjun tempat Sherlock Holmes adu pedang dengan Prof. James Moriarty sampa habis-habisan. Dua-duanya jatuh. James Moriarty tewas  sedangkan Sherlock tidak. Yah, walaupun kisah mengenai bahwa dia sebenarnya tidak tewas berada di buku terakhirnya yang memberikan penjelasan bahwa Sherlock, dengan kejeniusannya itu berhasil memalsukan kematiannya sendiri sampai bahkan John Watson tidak tahu. Continue reading “Nicotine Patch dan iPhone II: Sir Boast-a-Lot”

Life in Picture

The impossible cannot have happened, therefore the impossible must be possible in spite of appearances.

(Agatha Christie)

Pada tanggal 8 Desember 1926 Agatha Clarissa Miller Christie dikabarkan menghilang. Mobil beserta pakaian serta tas berisi barang-barang pribadinya ditemukan di pinggir danau tertinggalkan begitu saja. Satu-satunya penjelasan hanya sepucuk surat yang diperuntukkan kepada sekretaris pribadinya yang mengabarkan bahwa Ia akan pergi ke Yorkshire sendirian tanpa membawa puteri tunggalnya yang ditinggalkan begitu saja di rumah. Sang sekretaris tersebut juga merupakan orang yang terakhir melihat Agatha walaupun hanya sekilas saat beliau sedang mengendarai mobilnya menjauh dari rumah.

Beberapa jam sebelumnya, Agatha bertengkar hebat dengan suaminya, Archibald Christie (pilot angkatan udara Inggris), yang menyatakan dengan gamblang bahwa dia sedang menjalin hubungan dengan perempuan lain dan berencana ingin menikahi perempuannya. Dan untuk alasan itu maka Archibald memaksa istrinya untuk menandatangani surat cerai. Agatha menolak, Archibald marah dan pergi sembari mengatakan bahwa dia akan menghabiskan liburan di rumah selingkuhannya.
Continue reading “Life in Picture”