Nicotine Patch dan iPhone II: Sir Boast-a-Lot

Baca dulu ini kalo mau nyambung.

Tulisan ini sebenernya telah dibuat pada tanggal 24 Januari 2012 dan terlupakan, hehe… Tapi emang rencananya mau di post belakangan untuk menunggu waktu biar gak spoiler. Tapi ini memang spoiler.

Hallo. Are You ready for the story? This is the story of Sir Boast-a-Lot. Sir Boast-a-Lot was the bravest and cleverest knight  at the round table. But soon the other knights began to grow tired of his stories about how brave he was and how many dragon he’d slain. And soon they began to wonder, ‘Are Si Boast-a-Lot’s stories even true?’.

So All the knights went to King Arthur and said, ‘I dont believe Si Bost-a-Lot’s stories. He just a big old liar who make things up to make himself look good.’
And then, even the King began to wonder.

But that wasnt the end of Si Boast-a-Lot problem. No. That wasnt the final problem.

The End.

Saya akhirnya menyaksikan seri TV  Sherlock yang episode terakhir juga setelah dua minggu berada di dalam hardisknya  si Lenored, laptop saya, hehe.. Bukan karena terlampau sibuk untuk menyaksikannya, tapi karena sayang.

Saya tahu itu akhir dari kisah yang pada saat itu masih gak jelas apakah BBC akan melanjutkan drama ini lagi atau enggak. Dari judulnya pun udah taulah bagaimana akhirnya. The Reichenbach Fall. Itu nama air terjun tempat Sherlock Holmes adu pedang dengan Prof. James Moriarty sampa habis-habisan. Dua-duanya jatuh. James Moriarty tewas  sedangkan Sherlock tidak. Yah, walaupun kisah mengenai bahwa dia sebenarnya tidak tewas berada di buku terakhirnya yang memberikan penjelasan bahwa Sherlock, dengan kejeniusannya itu berhasil memalsukan kematiannya sendiri sampai bahkan John Watson tidak tahu.

Tapi dalam kisah aslinya toh memang John Watson ditampakkan sebagai seseorang yang bodoh sebagai upaya menggiring pembaca untuk mengangguk-anggukan kepala dan kebingungan. Seperti jaman dahulu ketika cewek-cewek bangsawan pergi kemana-mana membawa monyet hanya untuk menyatakan kepada setiap lelaki berpapasan bahwa dia sangat cantik. Maka sidekick adalah orang guoblok untuk memperlihatkan bahwa si tokoh utama adalah jenius.

Sangat tidak masuk akal sebetulnya. Toh kenapa kalau memang maksudnya begitu, maka berikan saja seorang sidekick itu orang yang emang bodoh. Jangan seorang dokter misalnya. Jaman Victoria di mana masih jarang orang sempat mengenyam pendidikan tinggi maka seorang dokter pastilah memang orang yang punya otak—atau punya uang banyak?

Dan begitu pula sidekicknya Hercule Poirot si Hastings yang mantan tentara Inggris (tidak aktif lagi karena terluka). Okeh, ini agak mendingan. Hastings seorang mantan tentara, bukan polisi. Hercule yang pensiunan polisi. Maka saya kira kegoblokan Hastings (dalam hal penyelidikan perkara tentu saja) masih bisa diterima. Tapi Detective Inspectur Japp? Oh, pliiis…

Jadi, sebagian dari diri saya sendiri sangat penasaran bagaimana masalah kematian Sherlock ini bisa diterjemahkan oleh Stephen Moffat dan Mark Gatis di TV seri BBC-nya. Beneran penasaran. Apalagi setelah menyadari bahwa penerjemahan Sherlock ke tahun 2010 dari tahun 1890an dilakukan dengan sangat mulus dengan cara yang sederhana tapi hampir tidak terpikirkan.

Yah, misalnya saja masalah forensik yang bikin Sherlock akan kesandung-sandung jika dibawa ke abad ini yang sudah sebegitu modernnya. Karena saya kira orang yang baru membaca Sherlock Holmes pada saat dewasanya jaman ini akan menertawakan penyelidikan jadulnya Sherlock, walaupun mereka sih tahu kalau toh ini karya sastra jaman Victoria saat teknologi kedokteran belum semaju sekarang dan bahkan yang namanya forensik belon ada.

Beruntung bagi saya karena berkenalan dengan Tuan Sherlock Holmes pada saat masih berusia sembilan tahun, masih kecil, dan taunya sih dia hebuat banget. Jadi saat Sherlock di bawa ke tahun 2010, maka saya beneran penasaran bagaimana kemulusan ceritanya.

Walah, sungguh simple. Tanpa membuat seantero kepolisian Inggris jadi keliatan guoblok (bandingkan dengan TV Seri Amrik CSI yang bikin forensik kok jadi begitu berkuasanya lebih dari detective yang menangani kasus atau yang lebih ancur lagi mantan polisi yang menderita obsesive compulsive disorder itu bikin semua polisi lain jadi gobloknya gak kira-kira. Huh, saya heran kenapa jajaran hukum di Amrik terima aja digoblok-goblokin kayak gitu, ya? Malah laku lagi TV serinya.) Sherlock bisa tetep keliatan cemerlang. Saya pernah menuliskan itu berkat sel-sel kelabunya, kecepatan berpikirnya, bukan hanya karena dia dianugerahi otak yang cemerlang tapi juga karena dia mampu memaksimalkan kinerja otaknya itu. Misalnya, pada episode the Hound of Backersville, dia memberitahu bahwa dia membuat semacam istana di kepalanya tempat dia meletakkan segala informasi yang telah dia ketahui sebelumnya. Maka dia sudah membangun semacam peta pikiran di dalam benaknya yang dapat ditelusurinya dalam hitungan detik saja. Saya kira itu cukup sederhana sekaligus luarbiasa rumit, namun tidak mustahil dan dapat dipelajari. Hanya perlu latihan kosentrasi tingkat tinggi saja.

Kalau Anda merasa itu mustahil, coba datanglah ke pesantren-pesantren dan ikut eskul Tahfidz Qur’an (Hafalan Qur’an), maka Anda menemukan bahwa para santri berusia duabelas tahun telah mempelajari bagaimana cara membagi pikiran mereka untuk menghafal ribuan ayat di dalam Qur’an, hehe… Well, walaupun mereka tidak menguasai bagaimana teorinya melakukan itu.

Kemudian satu lagi kelebihan Sherlock adalah bahwa pada saat dia melihat, mengamati, menghirup, mencium, merasakan sesuatu zat, maka bukan hanya dia memanggil informasi yang berharga yang telah dia ketahui sebelumnya, tapi juga daya khayalnya bekerja. Dan tentu saja khayalan adalah pelayan yang baik sekaligus tuan yang sungguh buruk. Dalam hal ini, Sherlock telah dapat menguasai imajinasinya sehingga dapat bertekuk lutut pada perintah maupuan apa yang dibutuhkannya. Dan dia bukan seorang polisi, bukan seorang karyawan. Dia bebas bekerja sendiri. Maka pikirannya dapat dengan bebas berada diluar kontruksi yang dapat melambankan langkah seseorang manusia.

Sederhana bukan?

Jadi bagaimana caranya Moffat dan Gatis akan memalsukan kematian Sherlock?

Apa beneran bakalan di bawa ke air terjun lalu baik Sherlock maupun Moriarty akan berduel sampai dua-duanya jatuh ke air terjun?

Hihi.. Ngebayanginnya aja udah rasanya absurd minta ampun. Lagian toh duel antara Sherlock dan Jim di seri TV ini diterjemahkan secara perfect elegan masa kini yaitu duel kecerdasan dua orang laki-laki yang pinter dan ngejengkelinnya minta anjrot! Ya, The Mind Game jauuuh lebih cocok untuk dilekatkan pada Sherlock VS Jim TV Seri BBC. Saya bahkan gak bisa membayangkan si Sherlock sama Jim saling hantam satu sama lain. Bukannya mereka tidak mampu untuk meninju orang, bukaaaaan… Dua-duanya diperlihatkan mampu untuk saling menghantam, tapi tidak pernah diperlihatkan saling hantam kalau bisa menyerang dengan verbal. Dua-duanya jago tembak saya kira.

Well, Sherlock jago tembak.

Dia menembak dinding kamarnya hingga membuat gambar orang senyum dari bekas bolongan peluru, tapi sepanjang enam episode yang saya saksikan, cuma sekali-kalinya dia beneran mengancungkan senjata saat dia dan Watson ditangkap polisi.

Dia jago tembak, tapi terlalu cerdas untuk menyombongkan itu kepada dunia. Dan gitu juga Watson. Weh, ini orang bukan hanya dokter tapi juga punya pangkat Kapten di angkatan darat yang pernah bertugas di Afganistan pula. Pastilah bisa nembak. Penembak jitu malahan! Di episode pertama TV Seri A Study in Pink, dia berhasil menyelamatkan hidup Sherlock dengan cara menembak jatuh si pembunuh dari gedung apartemen sebelah menembus dua jendela kaca. Tapi apa Watson kemudian jalan ke sana kemari bawa pistol dan mengeluarkannya setiap ada kesempatan? TIDAK PERNAH!

Secerdas itulah mereka berdua. Sehebat itu mereka berdua yang tidak perlu bergantung pada senjata, hanya untuk memperlihatkan kejantanannya. Begitu juga Jim Moriarty.

Wuuuu, lihat nih gua bisa nembak..jeder..jeder…

Cuma orang goblok, atau pinternya nanggung yang show off tentu saja. Lihat saja para dosen kita di kampus dulu, dosen baru biasanya pake bahasa gila-gilaan rumit sedangkan profesor cenderung lebih murah hati untuk dapat kita mengerti. Makanya tentara paling ganas itu pasti pangkatnya baru kopral atau polisi briptu, yang kolonel atau inspektur biasanya lebih kalem.

Maka, Anda bisa membayangkan betapa kecewanya saat menyaksikan Sherlock Homesnya Guy Ritchie yang berubah jadi tokoh amburadul itu? Busyet, itu Sherlock Holmes atau Iron Man? Hihihi… Sherlock di situ memang tidak bodoh, hanya pinternya masih nanggung. Habis sombong, sih! Dan film layar lebarnya itu sendiri memang jadinya hanya diperuntukan bagi orang yang males mendiskusikannya lebih jauh. Tentu bukan untuk penggemar Sherlock Holmes jadinya.

Oh, ya, Satu lagi. Kenapa pernikahan John Watson menjadi konflik yang berarti di seri layar lebar? Pada kisah aslinya, Sherlock dikisahkan tidak begitu tertarik pada wanita dan apalagi pernikahan, tapi bukan berarti dia tidak mengerti sahabatnya menikah. Sama seperti TV seri, Sherlock mendapat julukan ‘The Virgin’ (Sementara Irene Adler adalah ‘The Woman’ dan Mycroft Holmes adalah ‘The Ice Man’), karena dia tidak pernah diperlihatkan tertarik pada wanita (atau pria atau apalah) kecuali Irene Adler yang itu juga gak jelas apa emang tertarik hati, atau seksual, atau dua-duanya, atau mungkin, yang jauh lebih masuk akal, adalah kecerdasannya. Di TV Seri masalah ceweknya Watson gak bikin Sherlock uring-uringan. Dia malah menikmati saat-saat mengamati Watson ‘berburu’ perempuan dan bahkan juga senang menggodanya. Dia tidak merasa terancam atas kehadiran perempuan (selain Mrs. Hudson) di sisi Watson. Sherlock begitu menikmati dunianya sehingga dia membiarkan orang lain juga menikmati dunia mereka.

‘Oh, You a bad man, Sherlock. Bad..bad.. man,’ John Watson to SherlockHolmes.

Herlock, Mrs. Hudson, dan John
Sherlock, Mrs. Hudson, dan John

Oh, ya.. Mrs. Hudson si induk semang Sherlock di TV seri gak keliatan suebel setengah mati sama Sherlock. Oh, saya sungguh cinta dengan hubungan antara Mrs. Hudson di sini dengan Sherlock dan John. Beneran mirip ibu kost janda (Ibu saya adalah seorang janda dan ibu kost, maka saya mengerti gimana hubungan ibu-anak kost), memang beliau sering boanget keliatan geregetan setengah mati sama ulahnya Sherlock (apalagi kalo musti ngeberesin segala kerusuhan yang dibikin Sherlock, dah!) dan kadang-kadang sama John juga sama jengkelnya, tapi dia sungguh-sungguh terlihat sayang kepada mereka berdua seperti ibu yang sayang dengan putera-puteranya yang badung, tapi cukup mengerti walaupun sebenernya ogah ikut campur permasalahan mereka. Pada Sherlock season 2 episode 1 Scandal in Belgravia misalnya, rumah mereka dimasuki orang yang mencari ponselnya Irene Adler. Mrs. Hudson langsung aja tau apa yang orang-orang ini cari dan bahkan tahu tempat persembunyian Sherlock yang paling rahasia. Dia mati-matian berusaha mempertahankan apa yang dimiliki oleh Sherlock, dan dua serangkai juga gak main-main melakukan tindakan pembalasan terhadap orang yang melukai Mrs. Hudson.

Yep, itu gunanya anak (laki), bukan? Orang yang bersedia ngamuk berat kalo kita diapa-apain orang :p

Maka, kalau ada orang yang kepadanya Sherlock mau setengah mati berusaha menahan diri maka itu kepada Mrs. Hudson. Bahkan Mycroft yang selalu bersikap sok misterius dan berkuasa pasrah dibentak dan disuruh minta maaf kepadanya.

Kembali ke Mind Game Sherlock VS Jim, pada Sherlock season 1 episode 3 the Final Problem, yang saya percaya tadinya merupakan akhir dari TV seri ini, emang minta ampun ngejengkelin. Kasusnya jadi kayak Die hard gitu dimana Sherlock ditantang Jim memecahkan 5 kasus dalam hitungan jam dengan ancaman kalau dia gak berhasil memecahkan kasus, si tertawan akan meletus. Sherlock menari-nari dengan gembira tentu saja, tapi ini bukanlah duel yang bagus. Buruk malahan! Ancaman dan bahan peledak, cuh! Satu-satunya yang mencerminkan kejeniusan seorang moriarty adalah chaos yang akhirnya dia perlihatkan pada akhir kisah. Tapi tidak membuat terkesan. Dan Reichenbach Fall disini diterjemahkan sebagai kolam renang. Yaaaaah, jauuuh lebih dangkal (yang maksud saya bukan dangkal kedalaman air lowh) tapi cukup tidak memuaskan, hehe..

Every fairy tale needs a good old fashioned villain. You need me or you’re nothing — because we’re just alike, you and I. Except you’re boring. You’re on the side of the angels (Jim Moriarty)

Pada Sherlock season 2 episode 3, duel mereka berdua mencapai tingkat yang lebih tinggi lagi. Sherlock dan Jim telah mencapai pemahaman yang begitu bagusnya antara satu sama lain. Beuh, saya beneran menikmatiii banget saat mereka berdua duduk di flatnya Sherlock di depan perapian menghirup teh dan berduel pikiran dengan tenang dan terkendali. Oh, sungguh anggun! Jadi inget kisah-kisahnya Agatha Christie, hehe.. Mereka berdua dengan sengitnya bertarung dengan bahasa yaang santun namun saling menikam tajam satu sama lain. Dan di episode inilah ancamannya Jim pada season satu lalu diwujudkan.

I’ll burn you. I will burn.. the heart out of you!

Yep, dia tidak ingin hanya membunuh Sherlock secara fisik. Dia ingin membunuh keseluruhan karakter Sherlock Holmes, jatuh bergeletakan dan menjadi sampah!

Dan dia membuktikan bahwa dia bisa melakukan itu.

Sherlock dihancurkan sebegitu rupa sampai-sampai, dooooh, rasanya sungguh memilukan sekali.

Dan eksekusinya beneran membuat saya belingsatan!

Saking sederhananya sampai membuat kita bertanya-tanya bagaimana bisa?

Bagaimana Sherlock bisa selamat dari duel terakhir itu sedangkan kita semua melihat dia jatuh menghantam lantai jalanan yang keras dengan darah mengalir dari kepalanya yang menghantam aspal.

Oh, Gatis dan Moffat merancang skenario yang berbahaya. Jauh lebih berbahaya daripada ‘hanya’ jatuh ke dalam air dari ketinggian tertentu. Tidak. Sherlock vs Jim yang terakhir dilakukan diatap gedung. Jim tewas meledakkan kepalanya sendiri dengan pistol diletuskan ke dalam mulutnya menembus tengkorak belakang, yang tentu saja ini tidak memungkinkan seseorang selamat.

Hey, saya sudah memperingatkan spoiler bukan?

Dan Sherlock, oh ini bagus. Ini sunguh baguuuus.. Dia lompat dan jatuh ke bawah dengan kepala, atau lebih tepatnya wajah, menghantam lantai jalanan di bawahnya. Dan darah… Yep, darah mengalir keluar dari tengkoraknya.

Tapi dia selamat. Pada akhir kisah diceritakan bahwa dia berdiri mengamati Watson dan Mrs. Hudson yang mengunjungi makamnya. Jadi dia selamat.

Bagaimana?

Karena, tidak seperti layar lebarnya, yang TV Seri mempersilahkan kita mikir sendiri. Dan itu yang bikin menarik tentunya.

Saya kira ternyata jawabannya sederhana.

Pada episode sebelumnya Sherlock mengatakan bahwa dia hanya punya satu teman saja, tapi itu tidak benar. Ada tokoh-tokoh yang secara halus luput dari perhatian, atau sengaja dikaburkan dengan pernyataan ini, sehingga Jim hanya fokus kepada tiga diantaranya saja yaitu John Watson, Mrs. Hudson, dan Langestrade. Dua orang yang lain, yang justru bisa memegang peranan yang vital, luput dari perhatian.

Tentu saya tidak menyebut The Holmes Network. Walaupun itu juga bisa diminta untuk datang membantu agar suasana dibikin rusuh.

Molly, partner kerja Sherlock di laboratorium dan kamar mayat St Barthomolous Hospital. Perhatian Jim luput kepadanya yang justru adalah hal yang sangat bodoh. SUNGGUH BODOH mengingat Jim pernah mengencani Molly.

1.    Molly menawarkan bantuan.

2.    Sherlock meminta bantuan kepada Molly.

3.    Sherlock meminta Jim menemuinya di atap rumah sakit.

4.    Rumah sakit ini cuman berlantai tiga sajah.

5.    Dia terjun.

•    Oh, ya ampun. Kalo kita jatuh dari lantai tiga emangnya mati? Paling luka dan patah-patah dowang. Lagian ntu orang kan jatuhnya TEPAT di pelataran rumah sakit. Gak perlulah bantalan segala apapun itu karena kemungkinan untuk selamat besar sekali. Dia hanya perlu sedikit acting gak bergerak sebentar sebelum masuk ke dalam di mana sekutunya sudah menunggu.

6.    Molly bekerja di rumah sakit tersebut di kamar mayat. Kadang bantu otopsi juga.

•    Jangan bilang dia gak tau gimana caranya memalsukan atau membuat surat kematian seseorang.

7.    Mycroft adalah pemerintah Inggris.

•    Selalu ada keuntungan punya kakak yang bekerja di dalam pusat kerahasiaan negara. Khususnya jika dia punya salah sama kita.

Well, itu deduksi sayah, hehe… Gak usahlah ruwet mikirin apa mayatnya diganti sama mayat palsu atau tidak atau dia lari pas ada truck sampah lewat. Segitu dowang.

You … you told me once … that you weren’t a hero. Umm… There were times when I didn’t even think you were human, but let me tell you this. You were the best man, the most human … human being that I’ve ever known and no one will ever convince me that you told me a lie, and so … there. I was so alone … and I owe you so much. But please, there’s just one more thing, one more thing, one more miracle , Sherlock, for me, don’t be … dead. Would you do that just for me? Just stop it. Stop this…

John Watson

Advertisements

2 thoughts on “Nicotine Patch dan iPhone II: Sir Boast-a-Lot

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s