The Earl of Oxford

All art is political, Jonson, otherwise it would just be decoration. And all artists have something to say, otherwise they’d make shoes. And you are not a cobbler, are you Jonson.

Edward de Vere, The Earl of Oxford

Siapa yang gak pernah dengar nama William Shakespeare? Ditabok! Dia dikenal sebagai dramawan terbesar sepanjang masa (untuk saat ini) yang telah menerbitkan 37 drama dan 154 soneta. Tapi, yah, memang sudah menjadi pembicaraan umum (serius dan gak serius) bahwa apakah William Shakespeare si penulis drama adalah orang yang sama dengan aktor gagal dari Stratford-upon-Avon, Warwickshire Inggris itu, ataukah hanya nama pena dari orang lain. Sampai saat ini secara resminya diakui bahwa mereka orang yang sama.

Berbarengan dengan itu, para ahli mempunyai pendapat lain mengingat bahwa William Shakespeare yang itu adalah orang yang buta huruf meninggalkan anak-anak juga buta huruf, serta ‘menghilang’ secara tiba-tiba setelah 37 dramanya terbit, nampaknya sungguh tidak mungkin. Apalagi jika mengingat bahwa karya Shakespeare memiliki perbendaharaan kata yang luas dan kaya serta bahkan menambah sejumlah kosa kata yang baru baik dari serapan bangsa asing maupun kata yang betul-betul baru. Tentu saja sangat mustahil untuk menyatakannya sebagai karya dari orang yang tidak dapat membaca.

Namun apa betul dia tidak dapat membaca?

Tapi bagaimana mungkin seseorang yang dapat membaca bisa meninggalkan keturunan yang buta huruf? Itu kemudian yang menjadi pegangan dari para ‘konspirator’ yang mendukung bahwa Shakespeare adalah nama pena. Lagipula, walaupun dia hidup 400 tahun yang lalu, dokumentasi sudah berjalan. Beliau hidup kan tidak jauh dari masa Sir Issac Newton. Jika memang dia memiliki bakat sehebat itu, seharusnya ada paling tidak catatan atau diary bahkan mungkin karya-karya yang tertinggalkan selepas beliau meninggal dunia. Atau minimal adalah sebuah buku yang dimilikinya. Tapi kenyataannya, sama sekali tidak ada bahan tulisan apapun yang terdapat di kediamannya.

Lagian bukan hanya masalah bisa baca atau tidak, tapi karya Shakespeare berarti juga plot yang rumit, pengetahuan sejarah yang kuat, pemahaman dalam mengenai sistem hukum dan intrik-intrik politik serta selera bersosialisasi masyarakat kalangan teratas dalam strata sosial. Maka sangatk aneh jika ada orang tidak berpendidikan dan besar di desa bisa menguasai ini semua.

William Shakespeare (kiri) walaupun masih diperdebatkan apakah itu memang lukisan dirinya dan Edward de Vere (kanan)
William Shakespeare (kiri) walaupun masih diperdebatkan apakah itu memang lukisan dirinya dan Edward de Vere (kanan)

Selama ini memang banyak teori mengenai siapa seungguhnya orang yang berada di balik nama William Shakespeare. Christopher Marlowe, Mary Herbert, Sir Francis Bacon, adalah beberapa orang yang disebut-sebut sebagai kandidat. Dari semua yang paling terkenal, dan yang paling diterima adalah Sir Edward de Vere, 17th Earl of Oxford yang selain profilnya cocok pun kisah kehidupannya banyak yang mirip dengan karya-karya William Shakespeare. Tentu saja fakta kecil bahwa pada saat itu, seorang bangsawan dianggap tidak terhormat jika terlibat dalam dunia sastra dan seni yang dianggap bid’ah.

Film Anonymous ini mencoba untuk membuat penafsiran sendiri akan penjelasan siapa yang menulis karya-karya William Shakespeare ini.

Ini bukan film sejarah. Memang seluruh tokohnya mengambil dari tokoh-tokoh yang terlibat dalam event tersebut namun film ini sendiri lebih merupakan penafsiran, sepihak, jika boleh dikatakan, walaupun mencerminkan dari pendapat yang paling kuat, mengenai apa yang terjadi. Tapi bukanlah merupakan pendapat yang disepakati.

Kerajaan Inggris pada akhir masa pemerintahan Elisabeth I dipenuhi intrik politik sehubungan dengan pertanyaan siapa yang kemudian akan mewarisi tahta. Seperti semua tahu, demi alasan politis, Elisabeth I tidak (dapat)  menikah, maka tidak memiliki keturunan yang sah. Walaupun dalam film ini dikisahkan bahwa Sang Ratu sesungguhnya memiliki beberapa anak haram dari sejumlah kekasih yang berada di sekitarnya. Salah satu dari kekasih Sang Ratu adalah Sir Edward de Vere sendiri, yang bersama mereka memiliki seorang putera yaitu Henry Wriothesley, Earl of Southampton. Namun, walaupun jika memang itu benar, tetap saja undang-undang kerajaan Inggris hanya memberikan hak atas tahta kepada anak yang sah berada di dalam pernikahan di gereja.

Bakat Sir Edward de Vere dalam hal sastra sejak masih anak-anak sudah menarik hati Sang Ratu yang saat itu juga masih belia, tapi Edward memilih untuk hidup sebagai bangsawan yang terhormat belajar seni berperang. Namun tetap saja desakan untuk berkaryanya ini nampaknya tidak lagi mampu untuk dibendungnya. Secara sembunyi-sembunyi, dia sudah banyak sekali menulis berbagai drama panggung serta puisi. Bagaimanapun, sebagai bangsawan yang terhormat, dia tidak dapat mementaskan atau menerbitkan karya-karyanya ini. Pada Ben Jonson, de Vere menemukan pribadi yang cocok menjadi ‘pena’-nya. Ben Jonson adalah seorang penulis drama yang cukup baik, tidak hebat memang tapi dia memang pengarang. Dia cerdas dan berani untuk menuliskan tema politik sosial yang menyepet pemerintah, tidak suka berada di bawah lampu sorot, dan yang terutama adalah bahwa dia tidak memiliki satu kekhasan yang khusus pada setiap karyanya. Maka pada Johnson inilah de Vere kemudian meminta pertolongan.

Edward de Vere dan Ben Jonson

Jadi rencananya, Ben Jonson akan terus berkarya dan sesekali menerbitkan dan mementaskan karyanya de Vere diantaranya, sementara Edward de Vere sebagai Earl of Oxford akan melindungi Ben Jonson dari kemungkinan ditangkap atas karya-karyanya yang menyinggung pemerintah. Sederhana dan sempurna, bukan?

Satu hal yang tidak diprediksi oleh de Vere adalah Ben Jonson merupakan seorang pengarang sejati. Diminta untuk mengakui karya yang bukan miliknya itu berarti melawan nuraninya sendiri, dan menjadi tekanan yang besar. Dia tidak dapat melakukan itu. Maka bukannya melakukan apa yang diminta, dia malah mementaskan drama tanpa menuliskan sang pengarang. Drama itu sukses besar yang kemudian menimbulkan tekanan publik yang mempertanyakan siapa sih sebetulnya si pengarang. Pada saat itulah, muncul William Shakespeare ke atas panggung mengakui drama itu sebagai karyanya. William Shakespeare adalah seorang aktor pemabuk yang kebetulan tahu mengenai permasalahan Ben Jonson. Tidak seperti Jonson, Shakespeare justru senang hidup di bawah spotlite. Dan tidak merasa malu untuk menerima pujian atas pekerjaan orang lain. Bahkan bukan hanya itu saja malahan rahasia kecil ini kemudian dijadikannya senjata untuk mengeruk uang lebih banyak dari de Vere.

Bagi de Vere maupun Ben Johnson, ini kemudian menjadi semacam beban hati yang kemudian akan menghancurkan karir Ben Johnson sebagai pengarang juga akan menghancurkan karir politik de Vere, serta menggerecoki persahabat mereka.

Elisabeth I dan Edward de Vere

Kisah diatas adalah secarik dari Anonymous yang selain dari itu juga dikisahkan mengenai intrik-intrik politik di sekitar hidupnya Edward de Vere, dan juga hubungan uniknya dengan Elisabeth I yang bukan hanya kekasih rahasia serta ibu dari anak lelaki satu-satunya, tapi juga fans-nya yang mungkin paling pertama mengingat bahwa Sang Ratu sendiri sudah mengagumi karya de Vere yang sempat ditulis dan dipentaskannya pada saat dia masih kecil. Saat itu Sang Ratu sedang mengunjungi rumah keluarga John de Vere yang diterima umum sebagai ayah kandung Edward. Bertahun kemudian, bahkan walaupun saat hubungan mereka sebagai kekasih sudah putus dan hampir tidak pernah bertemu satu sama lain lagi, Sang Ratu ternyata tetap selalu mengenali karya-karyanya Edward. Dan bahkan demi memenuhi perintah Elisabeth lah, walau dengan terpaksa, de Vere tidak pernah mengungkapkan dan mengakui karya-karyanya.

Doh, jadi pengen nyanyi lagunya Joy Enriquez yang ost Anne and The King:

Must be brave, and we must go on
Must not say what we’ve known all along
How can I not love you?
What do I tell my heart?
When do I not want you here in my arms?
How does one waltz away from all of the memories?
How do I not miss you when you are gone?
How can I not love you?

Naskah Anomymous sebenarnya sudah rampung pada tahun 1998 namuan proyek ini kemudian ditunda pasca meledaknya kisah Shakespeare in Love, kemudian ditunda lagi mengingat bahwa kisah ini kemungkinan akan sangat melukai fans beratnya Shakespeare. Konon penduduk Stratford-upon-Avon malah suebel banget film ini, hehe.. Maka walaupun berdasarkan penelitian sejarah yang cukup dalam, namun tetap saja film pada akhirnya dimulai dengan kata pengantar dengan penjelasan bahwa ini adalah ‘interpretasi lain’ dari debat mengenai siapa sebetulnya Shakespeare.

Advertisements

2 thoughts on “The Earl of Oxford

  1. However, just increasing your general activity level by doing more active daily tasks can help
    you to lose belly fat. the answers are in the diet and regular exercise routines which I will share
    with you. Before they were protected in 1966 by the International Whaling Commission, some 360,000 blue whales were killed.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s