Sunrise dan Sunset

Who cares about the sunrise and sunset. That’s not fasting. That reschedule eating (Rev. Throne)

Ini seluruhnya spoiler!

Silahkan baca ini dulu, lalu ini dan ini.

Little Mosque on the Prairie akhirnya ditamatkan pada season enam. Gak jelas juga apa penyebabnya sebab sampai sejauh ini, berdasarkan dari petikan wawancara kepada Zarqa Nawas, sang creator seri, Little Mosque mengalami kesuksesan yang tidak pernah dibayangkannya sebelumnya. Memang ada gosip-gosip kecil mengenai bahwa seri ini mulai ditinggalkan penggemar selepas dibatalkan remake-nya di amrik selepas bocoran laporan intel dari wikileaks, tapi tidak juga ddisangkut pautkan dengan berakhirnya seri.

Satu-satunya penjelasan mungkin dari manooj Sood, pemeran Baber, yang menyatakan bahwa memang sudah lumrah untuk seri TV Canada berakhir pada season lima. Dan kenyataan bahwa Little Mosque bisa mencapai enam season, itu sebenarnya sudah luar biasa (untuk ukuran TV seri Canada). Bagaimanapun dunia pertelevisian harus terus dinamis. Harus terus dibuka kesempatan untuk ide-ide yang lebih baru dan segar.

Mau gak mau, saya merasa sedih juga. Ini TV seri kesayangan saya. Walaupun tentu saja saya gak selalu ngikutin tiap minggu dan memilih untuk menontonnya secara lengkap selepas satu season habis. Terkecuali pada season 1-3 tentu saja saat saya baru ngeh tentang seri ini.

Selesainya Little Mosque pada season ke-6 ini bukan sesuatu yang kejutan sebetulnya jika kita ngikutin terus perkembangannya. Sejak awal season terakhir ini, dari pihak CBC sudah memberi tahu. Maka sejak awal season, kisah sudah mulai beranjak ke arah penyelesaian.

Yasir dan Sarah Hamaoudi.

Pasangan suami istri yang sebelumnya dikisahkan gak pernah habis-habis kemesraannya ini berakhir secara mengejutkan. Mereka bercerai. Dan itu terjadi tepat pada saat Rayyan masih dalam perjalanan bulan madunya. Bayangkan betapa terkejutnya Rayyan mengetahui bahwa orangtuanya bercerai setelah menghabiskan 31 tahun masa pernikahan mereka. Gak dikisahkan apa sebetulnya yang menjadi alasan perceraian ini, walaupun sempat dibahas bahwa ini ada hubungannya dengan keluarga besar Hamoudi di Libanon sana.

Pada season-season terdahulu memang sempat dikisahkan bahwa pernikahan Yasir dan Sarah tidaklah sesempurna itu. Masalah terbesar adalah bahwa ibunda Yasir, dan keluarga Hamoudi di Libanon tidak pernah setuju Yasir menikahi seorang perempuan kulit putih yang beragama kristen. Walaupun kemudian Sarah menjadi mualaf, mereka tetap tidak mau menerima. Jadi selama 31 tahun ini, Sarah gak pernah dianggap oleh keluarga Hamoudi, walaupun mereka dengan tangan terbuka menerima Rayyan. Dan nampaknya, Rayyan-lah yang menjadi satu-satunya alasan kenapa sang ibu menyabarkan diri dengan keberadaan Sarah. Namun, ada tidak adanya Rayyan, toh tetap juga Sang Ibu, setiap kali datang ke Canada, selalu berusaha untuk menjodohkan Yasir dengan perempuan Libanon, atau paling tidak, perempuan yang memang sudah muslim sejak dari lahirnya. Toh lelaki muslim, secara agama, boleh untuk memiliki lebih dari satu istri. Yasir selama ini selalu bisa berkelit. Tapi kemudian Sang Ibu sakit parah yang mengharuskannya pulang ke Libanon untuk sementara. Tapi sementara ini kemudian menjadi permanen. Yasir tidak pernah kembali lagi kepada keluarganya di Canada. Kecuali pada hari pernikahan Rayyan, saat dia harus hadir sebagai wali dari anak satu-satunya ini.

Yasir sudah tidak muncul kembali di season terakhir dan memang nampaknya cerita perpisahan ini pun agak terpaksa diberikan karena Carlo Rota, pemeran Yasir, konon sudah berada di seri TV yang lain yang tidak mungkin dilakukannya bersamaan dengan Little Mosque. Tapi di sisi lain, tokoh Yasir ini memang sudah menjadi bahan ejekan dan kontroversi dari para penggemar Little Mosque. Soalnya si Carlo Rotta ini sebelum bermain di Little Mosque sempat pula bermain di seri TV Queer as Folk. Tentu jadi omongan banget tentang lelaki yang berperan memerankan gay yang lengkap dengan adegan-adegan seksual di satu kisah kemudian menjadi ketua dewan masjid di seri yang lain.

Oh, ya, sebagai catatan, sebagian besar pemeran TV seri tentang komunitas muslim ini memang tidak beragama Islam. Dari semuanya, hanya tiga orang diantara mereka yang memang muslim yaitu Zaib Saikh (Amaar Rasyid), Sittara Hewit (Rayyan Hamoudi) dan Aliza Felani (Layla Siddiq). Itu kecuali tentu sang penulis cerita yaitu Zarqa Nawaz yang memang muslim.

Sarah Hamoudi (Sheila McCartney) yang single lagi di season ke-6 segera mendapat persetujuan Rayyan untuk memulai nge-date lagi, yang ini rada ribet urusannya kemudian. Sebab sebagai seorang muslim, yang dikatakan nge-date bagi Sarah tentu berbeda dengan nge-date bagi lelaki Canada pada umumnya. Kenyataan bahwa masuk islamnya Sarah pada awalnya yang memang hanya karena dia menikah dengan lelaki muslim kemudian memunculkan kegamangan tersendiri bagi Sarah. Apakah setelah bercerai ini dia akan tetap menjadi seorang muslim ataukah dia akan kembali ke agamanya yang sebelumnya? Apa artinya Islam bagi Sarah sebetulnya? Pertanyaan ini yang akan terus mengusik Sarah sepanjang season ke enam.

Rev. Thorne, Imam Baber dan Layla Siddiq

Dua imam konservatif ini pada akhirnya menemukan cara bagaimana mereka bisa saling mengerti dan menghormati masing-masingnya. Saya agak bingung apa yang menyebabkan Baber kemudian menjadi bersikap lebih terbuka menerima bahwa ada orang-orang lain di dunia ini yang memiliki pendapat yang berbeda dengannya. Tapi nampaknya, insiden ditutupnya masjid pada season terdahulu yang diawali dari pertikaian antara Baber dan Rayyan kemudian membuka mata Baber bahwa betapapun dia selalu menginginkan penduduk kota Mercy, atau secara umum penduduk Canada untuk sedikit mengerti tentang kehidupan warga muslim, toh dia pun harus mau untuk mencoba mengerti warga selain muslim juga. Baber kemudian jauh lebih mau menerima pendapat orang lain, walaupun untuk dia sendiri, yah, dia tetap tidak tergoyahkan sebagai perwakilan dari warga muslim yang konservatif di Mercy.

Perubahan tokoh Baber ini memang cukup luar biasa yang tadinya dia tokoh love to hate jadi tokoh yang paling menyenangkan, tentu tetap saja, dengan caranya sendiri. Semakin lucu. Dan nampaknya bagi warga muslim Canada si Baber ini jadi semacam tokoh favorit gitu. Manooj Sood pada suatu wawancara mengatakan baahwa dia sering dihampiri warga muslim yang tau-tau cium tangan kepadanya lalu bertanya-tanya di mana masjidnya. Manooj Sood tentu saja akan mengatakan seadanya bahwa dia sebenarnya bukan muslim melainkan pemeluk Hindu, hehehe..

Layla Siddiq, puterinya Baber, sudah tidak banyak dikisahkan lagi selain pada akhirnya dia bisa membuktikan pada ayahnya bahwa dia sudah cukup dewasa dan bahwa ayahnya yang orangtua tunggal sekaligus dosen sekaligus imam masjid itu sudah berhasil mendidiknya menjadi seorang perempuan dan muslimah yang baik. Dia tidak melakukan hal-hal yang nganeh-nganeh bagi seorang muslim dan berhasil diterima di fakultas kedokteran di salah satu universitas terbaik di Canada, yang diputuskannya untuk ditarik kembali dan lebih memilih untuk masuk jurusan Liberal Art, karena memang di bidang itulah minatnya sesungguhnya. Babernya bengong, hehe..

Rev. Throne yang pada awalnya dikisahkan rada licik ini—yang ternyata sebetulnya hanya wujud kekecewaannya dan frustasi atas umatnya di kota Mercy—pada akhirnya malah banyak belajar bagaimana untuk mengelola komunitas agama dari tetangganya yang muslim, yang kemudian membuatnya bisa membangun kembali komunitas gereja yang sebelumnya dikisahkan pada ‘kabur’ karena gak gitu setuju dengan Rev. Mcgee yang dianggap warga terlalu liberal. Dia gak pernah bisa membangun hubungan yang cukup baik dengan Imam Amaar sebagaimanapun dia meenginginkannya, tapi dia ternyata dapat mencapai kesepahaman dengan Imam Baber. Seperti sebelumnya saya tuliskan, mereka masing-masingnya tetap menjadi dua tokoh konservatif, tapi lebih bisa menerima perbedaan cara pandang orang lain, dan hidup berdampingan dengan saling menghormati. Persahabatan mereka berdua di season ke-6 ini rada ngocol juga.

Fatima Dynsa dan Fred Tupper.
Dari tokoh-tokoh Little Mosque ini, mereka berdua yang nampaknya gak berubah. Gitu-gitu ajalah. Fatima tetap sibuk sama cafe-nya dan Fred dengan radionya yang selalu ngomongin kejelekan komunitas muslim walaupun seperti memang sudah terjadi di season-season lalu, dia gak islamaphobia lagi, walaupun tetep doyan ngejek kebiasaan-kebiasaan warga muslim yang menurutnya gila. Warga muslim pun tidak lagi menganggap Fred sebagai musuh. Malah sebaliknya, dia semakin diterima sebagai bagian dari anggota komunitas (muslim maupun kristen) yang cukup ngejengkelin, tapi itulah Fred.

Imam Amaar Rasyid dan Dr. Rayyan Hamoudi

Kalo untuk mereka berdua mah udah bukan kejutan lagi, lah, ya.. Pada akhir season ke-5, mereka akhirnya menikah setelah satu season persiapannya. Sebelumnya pada akhir season ke-4, Rayyan secara impulsif menyatakan cintanya kepada Amaar ditengah-tengah SEMUA anggota komunitas muslim yang lagi kumpul-kumpul dengan rangka merayakan kembali dibukanya masjid mereka. Semua orang terdiam dwong, ahahaha.. Busyet, dah, kalo gua jadi Rayyan langsung semaput kali, ya, saking kaget sendiri dan malu juga pastinya diliatin semua orang gitu.Pada episode selanjutnya, Amaar pun membalasnya dengan lamaran. Dan begitulah.

Saya kira yang menarik adalah proses lamaran ini agak berbeda dengan kisah Rayyan vs JJ sebelumnya yang memang dijodohkan orangtua mereka. Pada kisah Rayyan vs Amaar ini, si Amaar melamar Rayyan dengan cara yang sungguh biasa kita saksikan di film-film barat. Menekuk lutut bertanya maukah kamu menikah denganku sambil menyodorkan cincin. Hanya perbedaannya, sebelum melamar Rayyan, si Amar musti dulu melamar wali Rayyan yaitu Yassir sebelumnya untuk menjadi mertuanya. Lucu juga itu.

Pertunangan Rayyan dan Amaar ini kemudian dengan sendirinya kembali membuka hati orangtua Amaar yang tadinya mereka begitu kecewa dengan pilihan putera tunggalnya ini yang tau-tau aja gitu meninggalkan masa depannya yang cemerlang sebagai pengacara sekaligus pewaris firma hukum ayahnya untuk menjadi seorang imam masjid yang miskin. Namun sementara hubungan Amaar semakin baik dengan orangtuanya, Rayyan justru malah menjadi semakin khawatir selepas perceraian kedua orangtuanya.

Penutup

Seluruh kompleks gereja Anglikan terbakar habis. Ini tidak membuat masalah berarti bagi komunitas muslim yang padaa akhir season ke-6 ini, dikisahkan sudah memiliki masjid sendiri atas sumbangan pribadi dari Amaar yang sebelumnya berhasil meraih penghargaan sebagai tokoh lintas agama di Canada. Uang yang diterima Amaar ini kemudian dipakainya seluruhnya untuk membeli sebidang tanah di tempat dulu dia pernah menyepi saat dipecat sebagai imam masjid, dan mendirikan masjid, kemudian mewakafkannya untuk umat. Sementara menunggu gereja kembali dibangun, komunitas Anglikan kota Mercy dipersilahkan untuk memakai salah satu ruang di dalam kompleks masjid sebagai gereja. Dan selesailah kisah ini, hiks…

Terimakasih untuk Little Mosque on the Prairie sepanjang 6 season ini Ibu Zarqa Nawaz. Ini kisah yang sangat menyenangkan, mengharukan, dan minta ampun lucu!

Zarqa Nawaz
Zarqa Nawaz

 

Zarqa Nawaz (Born 1968 in Liverpool, England) is a BritishCanadian freelance writer, journalist, broadcaster, and filmmaker of Pakistani origin.

Short Film

  • BBQ Muslims (1995)
  • Death Threat (1998)
  • Random Check (2005)
  • Fred’s Burqa (2005)

Screenplays

  • Real Terrorists Don’t Bellydance (2003)

Feature-length Films

  • Me and the Mosque (2005)

TV Seri (Writer)

 

Advertisements

Atticus, Jem, and Scout Finch

To Kill a Mockingbird menjadi kian menarik setiap kali dibaca lagi; setiap kali jalanan Kota Maycomb terasa semakin nyata, Scout menjadi semakin menyentuh, Atticus menjadi semakin heroik, dan Boo Radley semakin tragis (Amazon.com)

Dan saya semakin jatuh cinta sama Atticus, kalau boleh saya tambahkan sendiri :p

To Kill a Mockingbird karya Harper Lee ini adalah salah satu buku yang sudah berkali-kali-kali saya baca. Pertama kali sewaktu saya SMP, yang nampaknya bagi saya saat itu buku ini kurang menarik, membosankan, dan bertele-tele.

Gak jelas banget, da, ah!

Terlalu banyak halamannya!

Gak tau sebenernya ini bocah mau nyeritain apa!

Itu karena pada saat itu saya sedang mulai baca-baca bukunya Agatha Christie yang jelas banget mau ngapain: ada yang terbunuh dan detektifnya nyari siapa dia orang yang ngebunuh itu, titik! Maka saya tendang dan lupakan begitu saja. Apalah peduli saya dengan kehidupan kaum minoritas? Bahkan saya sendiri gak tau pula itu buku nyangsang ke mana.

Selanjutnya saya mulai mencoba membaca kembali pada masa-masa akhir kuliah, berputus sambung gantian dengan The Satanic Verses-nya Salman Rushdie dan Uncle Tom’s Cabin-nya Harriet Beecher Stowe. Itu semua adalah tiga teratas dari daftar buku yang saya anggap hutang bagi saya sendiri yang harus saya selesaikan baca sebelum mati! (Duileeeeh…) Dua dari tiga buku itu berhasil saya selesaikan, satu sampai sekarang masih juga menggantung gak jelas, dan gak jelas juga kapan saya mau melanjutkan baca, kehkehkeh…

Keberanian adalah saat kau tahu kau akan kalah sebelum memulai, tetapi kau tetap memulai dan merampungkannya, apapun yang terjadi (Atticus Finch)

Berseting di kota fiksi Maycomb di Alabama, kisah berputar pada petualangan dan keseharian keluarga kecil Atticus Finch yang berprofesi sebagai pengacara. Atticus yang ditinggal mati oleh istrinya bertahun-tahun yang lalu ternyata mampu menjadi orangtua tunggal yang keren untuk Jem (Jeremy Atticus Finch) dan Scout (Jeane Louise Finch), putera-puterinya. Terlepas apapun yang dikatakan oleh keluarga besarnya mengenai si bungsu Scout yang dianggap tumbuh terlalu liar dan tomboy. Pada kenyataannya, Jem, si abang, memang lebih terlihat tenang dan dewasa untuk anak seumurnya sementara Scout anak yang gampang sewot dan suka berkelahi. Eits, berkelahinya Scout ini model tonjok-tendang-banting-tackle ala anak laki dan bukan jambak-cakar-nangis ala cewek, ya..

Kakak beradik yang selalu kompak ini, walaupun sering berkelahi juga kadang, berkawan dengan seorang anak laki-laki yang dipanggil dengan sebutan Dill (Charles Baker Haris), keponakan dari Miss Rachel, seorang tetangga, yang setiap liburan musim panas harus tinggal bersama bibinya itu.

Atticus Finch, sang ayah, ditunjuk oleh pengadilan untuk menjadi pengacaranya Tom Robinson. Tom yang seorang negro dituduh telah memerkosa Mayella Ewel, salah seorang gadis kulit putih berusia 19 tahun. Perkosaan bisa mendatangkan hukuman mati pada waktu itu, apalagi apabila pelakunya warga kulit hitam. Warga kulit putih, termasuk beberapa orang di keluarga Finch yang dihormati mencemooh dan tidak mengerti kenapa Atticus menyatakan setuju untuk membantu Tom Robinson. Sementara bagi Atticus sendiri, tiada yang lebih dikhawatirkannya selain kasus ini yang akan membawa-bawa dengus ketidaksukaan warga akan menggerecokin kedamaian kedua anaknya.

Sesungguhnya, demi kedua anaknya inilah Atticus menyatakan setuju untuk mengambil kasus yang seakan keputusannya sudah di ketukkan di meja hakim itu. Memang benar, kedua anaknya masih kecil pada saat ini, namun suatu saat nanti mereka akan tumbuh dewasa. Suatu saat mereka pasti akan tahu juga mengenai kasus yang sempat menghebohkan kota kecil mereka. Dan pada saat itu, mereka akan bertanya mengapa ayah mereka, yang seorang pengacara, menolak untuk mengulurkan bantuan kepada seorang negro yang sesungguhnya tidak bersalah? Atticus tidak mau diingat anak-anaknya sebagai seseorang yang diam pada saat seharusnya dia ikut terlibat.

Saya suka dengan keputusan akhir mengenai kasus Robinson vs Ewel di kisah ini. Yah, walaupun sudah berkali-kali diisyaratkan sejak awal bagaimana akhir dari drama pengadilan tetap saja saya suka dengan keputusan yang diberikan oleh Harper Lee yang sungguh realistis untuk tahun 1930-an tersebut. Coba bandingkan dengan kisah A Time to Kill-nya John Grisham yang mengupas, dalam berbagai hal, kasus hukum dengan latar belakang rasial juga yang menurut saya sungguh mengada-ada putusan pengadilannya. Yah, walaupun saya setuju juga kalau dibilang si Jake Brigance itu si Atticus Finch masih muda dan Atticus Finch adalah Jake Brigance yang lebih tua dan lebih bijaksana.

Robinson vs Ewel di kisah ini, walaupun mungkin tidak sesuai dengan keinginan terliar para pembaca, namun merupakan suatu terobosan yang besar pada saat itu, dan bagaimana warga baik kulit hitam, maupun kulit putih, sadar akan dampaknya di masa yang akan datang. Seperti kata Miss Maudie:

Atticus finch tidak akan menang, tak mungkin menang, tapi dia satu-satunya orang di sekitar sini yang bisa membuat juri berdiskusi begitu lama dalam kasus seperti ini. Dan aku berpikir sendiri, baiklah kita membuat satu langkah—hanya langkah kecil seorang bayi, tapi tetap saja satu langkah.

Closure mengenai kasus (bukan seluruh kisahnya) adalah pada saat Atticus membahas kembali mengenai kasus yang baru saja ditanganinya bersama kedua anak dan Miss Moudie, dan betapa mereka (Jem dan Scout) dan kita, pembaca (maksudnya saya) salah jika menyangka bahwa Atticus di sini bekerja keras sendirian nyaris tanpa dukungan siapapun.

Kita diingatkan mengenai Sang Hakim yang atas keputusannyalah maka kasus Tom Robinson diberikan kepada Atticus Finch, pengacara yang mendengarkan hati nuraninya dan benar-benar memperjuangkan kliennya yang tidak bersalah, tanpa melihat warna kulitnya, dan bukan Maxwell Green yang apatis, pengacara yang seharusnya ditunjuk oleh Hakim Taylor. Selain Miss Maudie Atkinson sendiri, atau para tetangga yang mendoakan Atticus serta selalu melindungi kedua anaknya dari kesewotan warga kulit putih, ada pula Sherif Heck Tate yang bekerja keras melindungi Atticus dan Tom Robinson, apapun mungkin pendapatnya.

Tenanglah, Nak. Dia sudah tua dan sakit-sakitan. Angkatlah kepalamu dan jadilah lelaki terhormat. Apapun yang dikatakannya kepadamu, tugasmu adalah tidak membiarkannya membuatmu marah (Atticus Finch kepada Jem Finch)

Tapi tidak semuanya di buku ini melulu mengenai kasus. Ini kisah yang mungkin seharusnya di baca oleh para ayah, atau calon ayah, diluar sana mengenai bagaimana Atticus yang orangtua tunggal bisa menyelesaikan hampir setiap permasalahan dan kegelisahan putera puterinya yang masih bocah. Bagaimana dia bisa menjadi sosok yang sanggup meneduhkan pada suatu saat dan berganti menjadi sosok tangguh si jago tembak yang melindungi seluruh keluarganya. Atticus adalah ayah yang selalu bisa berkompromi untuk anak-anaknya, namun juga menunjukkan bahwa terkadang anak-anaknya pun harus patuh kepadanya, tanpa alasan dan tanpa pertanyaan.

Beberapa tokoh yang dekat dengan anak-anaknya Atticus ini adalah tentu saja yang pertama-tama adalah Si Uncle Jack, adik Atticus yang berprofesi sebagai seorang dokter yang tinggal di kota lain, namun selalu datang kapanpun setiap ada kesempatan. Uncle Jack ini pun digambarkan agak beda dengan dokter-dokter lain yang sosoknya selalu menakutkan anak-anak. Sebaliknya, dia laki-laki yang humoris dan mengerti bagaimana memperlakukan anak-anak, termasuk saat harus merawat cedera mereka juga, tapi pun tetap selalu mau belajar bahkan dari anak-anak itu sendiri. Tokoh Uncle Jack ini dihilangkan sama sekali pada versi filmnya.

Selain Uncle Jack ada pula Aunt Alexandera, juga adik Atticus, yang memiliki pikiran berkebalikan dengan kakaknya, sekaligus simbol dari pendapat warga sekitar saya kira, yang maka pembicaraan diantara mereka hampir selalu menjadi perdebatan-perdebatan yang sengit namun tetap saling menghormati. Saya terkejut saat Atticus kemudian memutuskan untuk membawa adiknya ini ke rumahnya dan menugaskannya untuk mendisiplinkan anak-anaknya khususnya Scout yang memang sudah saatnya bersikap..agak..sedikit perempuan. Kebayang pula bagaimana menderitanya Scout ini, ya.. Dan betapa menderitanya Atticus juga yang musti menyaksikan naik turunnya emosi Scout yang ogah berat diatur orang.

Miss Maudie Atkinson dan Calpurnia sebaliknya, mungkin figur-figur pengganti ibu yang lain lagi bagi Scout dan Jeremy. Calpurnia adalah seorang wanita afrika-amerika yang bekerja sebagai asisten rumah tangga di kediaman Finch. Dia tidak tinggal di situ, biasanya segera pulang ke rumahnya sendiri saat Atticus sudah tiba di rumah, dan sikapnya kepada kedua anak Atticus benar-benar seakan seperti anaknya sendiri dan bukan anak majikannya. Dia bisa, dan memang diminta untuk tegas dan bukan memanja-manjakan. Kedua anak Atticus pun diharuskan patuh dan menghormati Calpurnia. Sementara itu Miss Maudie, tetangga dan kawan baik Atticus, sekaligus sahabat Uncle Jack sejak kecil. Dikisahkan bahwa pada setiap musim liburan, Uncle Jack akan melamar Maudie dengan cara berteriak-teriak dari jendela, dan Maudie pun akan menjawabnya dengan berteriak-teriak tidak kalah kerasnya. Bagi Scout tentu ini mengherankan sekali. Dan Miss Maudie ini mungkin posisinya bagi anak-anak adalah sebagai figur perempuan berpendidikan dan independen, tempat Scout sering melipir setiap kali dia merasa kesepian.

Satu-satunya tempat dimana seseorang semestinya mendapatkan keadilan adalah ruang pengadilan, baik kulitnya berwarna apapun dalam pelangi, tetapi kebencian biasanya terbawa ke dalam petak juri (Atticus Finch)

To Kill a Mockingbird sudah difilmkan pada tahun 1962 yang terlepas dari berbagai kekurangannya bagi kita (tahun jebot gitu! Item putih abu-abu, jek! Jadi berasa malem melulu!) ataupun kelebihannya (menang banyak penghargaan) tapi memang agak susah untuk memasukkan novel yang cukup panjang kepada layar selama dua jam saja. Maka kisah yang penuh makna ini pun terpangkas hanya seputar mengenai kasus, atau mungkin lebih tepatnya terlalu banyak yang dihilangkan. Dan begitu pun tokoh-tokohnyayang terkadang dimasukkan atau dilepaskan begitu saja sehingga saya bertanya-tanya jika ada yang menyaksikan tanpa membaca bukunya, akan mengertikah dengan jalan ceritanya?

Satu hal yang saya langsung kepincut abis-abisan adalah para actor dan betapa bagusnya mereka mendalami kisah (Juga betapa menakjubkannya kok bisa-bisanya beneran sosoknya sesuai ngeplek banget dengan bayangan saya! *Wow!) khususnya tiga serangkai Atticus, Jem, dan Scout.

Mary Badham beneran paaaas banget meranin Scout yang badung-usil tukang ngajakin berkelahi ke ekspresi-ekspresi muka dari mencibir-bosan-jahil sampai manja cengengnya kepada sang ayah. Phillip Alford sebagai Jem si kakak yang dewasa dan melindungi serta Gregory Peck sebagai Atticus Finch yang bijaksana, bahkan si anjing yang rabies pun meyakinkan! (Yaiyyalaaaah… )

Buku:
Judul Buku: To Kill a Mockingbird
Pengarang: Harper Lee
Penerjemah: Femmy Syahrani
Penyunting: Berliani Manuli Nugrahani
Penerbit: Qanita (Mizan Group)
Halaman: 536 hal
Harga: Rp. 65.000,00 (2012)

Film:
Directed:Robert Mulligan
Produced:Robert Mulligan, Alan J. Pakula.
Screenplay:Horton Foote
Based on To Kill a Mockingbird by Harper Lee
Music: Elmer Bernstein
Cinematography: Russell Harlan
Editing: Aaron Stell
Distributed: Universal Pictures
Release: December 25, 1962
Country: United States
Language: English
Budget: $2,000,000