Hukum, Keadilan, dan Kemanusiaan

If you can’t solve the puzzle, if you can’t win the game, then you’re just a looser

Saya ‘menemukan’ seri Death Note awalnya gara-gara salah sangka yang dikirain itu film Death Notice yang, sebaca dari review, cerita tentang negara Jepang yang merasa udah kelebihan penduduk. Jadi pemerintah memberikan semacam vaksinasi yang sesungguhnya mereka menanamkan suatu alat yang akan menghentikan kerja jantung saat diperlukan. Nah, duapuluh empat jam sebelum jantung seseorang dihentikan, pemerintah memberikan pemberitahuan untuk itu. Jadi kisah bergulir mengenai apa-apa yang dilakukan oleh orang-orang ini untuk menghabiskan duaapuluh empat jam terakhir dalam hidupnya. Continue reading “Hukum, Keadilan, dan Kemanusiaan”

Advertisements

Komik Jepang I: Gold Fish, Master Keaton, dan Pengantin Demos.

Ini gara-gara selama beberapa hari saya menamatkan nonton 20th Century Boys dan mulai baca Billy Bat, jadilah mulai lagi nyari-nyari komik Jepang lama.

Saya bukan penggemar komik Jepang (atau manga atau apalah, ya, hehe..) yang mungkin lebih dikarenakan semasa SMP dulu, saya semacam dikerubungin sama komik-komik Jepang serial cantik yang kagak ada seru-serunya pisan! Maklum, waktu itu saya tinggal di pesantren, di asrama perempuan yang semua isinya perempuan! Jadi cuman komik-komik cewek gitulah yang saya tahu. Manalah ada yang bawa Kung Fu Boy atau apalagi Detective Kindaichi.

Dan seperti kita semua tahu–atau cuman saya aja yang bermasalah?—komik serial cantik itu bukan hanya ceritanya gak rame (Pokoknya ada cewek yang merasa gak cakep, merasa ceroboh, merasa diri aneh, suka sama cowok populer ganteng trus akhirnya mereka jadian. Yah, minimal dari beberapa yang saya baca gituh!), susunan penempatan panel gambarnya pun boerantakan pisan! Bikin puyeng kehilangan arah ini teh sebetulnya dibacanya dari mana? Dari kanan? Dari kiri? Dari atas apa dari bawah? Etapi masa sih dari bawah?

Tapi bukan berarti saya mati-matian gak tau sama komik. Ada beberapa komik yang sempat saya ikuti dulu kala bahkan sampai sekarang, walaupun bisa diitung dengan jari pun gak semuanya sampai tamat.

Gold Fish (Neko Nekobe) Continue reading “Komik Jepang I: Gold Fish, Master Keaton, dan Pengantin Demos.”

Have You Ever Killed Your Best Friend?

Judul diatas itu tagline-nya Battle Royale. SPOILER ALERT!

Life is a game. So fight for survival and see if you’re worth it (Teacher Kitano)

Dari dulu juga saya udah merasa males untuk baca dan apalagi nonton The Hunger Games. Mungkin karena udah kebawa-bawa temen-nonton yang bawaannya sakit hati mulu kalo ngomongin The Hunger Games. Maklum, dia penggemar fanatik Battle Royale, sih. Dan emang juga kalau secara sekilas, dua kisah ini jadi kayak mirip banget. Eniwey, setelah bluray-nya rilis juga, maka saya pun, akhirnya nonton pula The Hunger Games dan…sepakat dengan teman-nonton itu, hehe.. Bagusan Battle Royale kemana-mana!

Yah, mungkin ini hanya masalah yang mana sampai duluan kepada kita. Sebuah film adaptasi novel, jika kita baca novelnya duluan, kita cenderung akan lebih menyukai novelnya atau begitu pula sebaliknya. Juga sebuah film yang remake. Kayaknya jaraaaang banget kalo kita malah cenderung menyukai versi yang belakangannya kita tahu. Contohnya seperti Millenium Trilogy yang setelah baca novelnya, saya memutuskan untuk lebih suka film-nya yang versi Swedia (Versi swedia, ya. Bukan yang versi Hollywood). Tapi tidak selalu pasti seperti itu juga, sih. Contohnya Freaky Friday yang saya menonton versi modernnya duluan ternyata malah jauh lebih suka yang versi jadulnya tahun 1976 yang menurut saya jauh lebih bikin ngakak (dan bikin saya jadi nge-fans sama Jodie Foster). Gak ngerti dah kenapa musti di remake dan hasilnya kayak gituh! Atau ada pula beberapa kisah yang ternyata saya justru suka kedua-duanya terlepas apakah memang kisahnya di beneran sama persis dengan bukunya atau tidak seperti Silance of The Lamb, Lord of The Rings trilogy, dan How To Train Your Dragon. Continue reading “Have You Ever Killed Your Best Friend?”