Have You Ever Killed Your Best Friend?

Judul diatas itu tagline-nya Battle Royale. SPOILER ALERT!

Life is a game. So fight for survival and see if you’re worth it (Teacher Kitano)

Dari dulu juga saya udah merasa males untuk baca dan apalagi nonton The Hunger Games. Mungkin karena udah kebawa-bawa temen-nonton yang bawaannya sakit hati mulu kalo ngomongin The Hunger Games. Maklum, dia penggemar fanatik Battle Royale, sih. Dan emang juga kalau secara sekilas, dua kisah ini jadi kayak mirip banget. Eniwey, setelah bluray-nya rilis juga, maka saya pun, akhirnya nonton pula The Hunger Games dan…sepakat dengan teman-nonton itu, hehe.. Bagusan Battle Royale kemana-mana!

Yah, mungkin ini hanya masalah yang mana sampai duluan kepada kita. Sebuah film adaptasi novel, jika kita baca novelnya duluan, kita cenderung akan lebih menyukai novelnya atau begitu pula sebaliknya. Juga sebuah film yang remake. Kayaknya jaraaaang banget kalo kita malah cenderung menyukai versi yang belakangannya kita tahu. Contohnya seperti Millenium Trilogy yang setelah baca novelnya, saya memutuskan untuk lebih suka film-nya yang versi Swedia (Versi swedia, ya. Bukan yang versi Hollywood). Tapi tidak selalu pasti seperti itu juga, sih. Contohnya Freaky Friday yang saya menonton versi modernnya duluan ternyata malah jauh lebih suka yang versi jadulnya tahun 1976 yang menurut saya jauh lebih bikin ngakak (dan bikin saya jadi nge-fans sama Jodie Foster). Gak ngerti dah kenapa musti di remake dan hasilnya kayak gituh! Atau ada pula beberapa kisah yang ternyata saya justru suka kedua-duanya terlepas apakah memang kisahnya di beneran sama persis dengan bukunya atau tidak seperti Silance of The Lamb, Lord of The Rings trilogy, dan How To Train Your Dragon.

Kisah

Dua-duanya menceritakan keadaan di dunia alternatif. Battle Royale mengisahkan bahwa Jepang yang pemenang perang dunia ke-2 ini mengadakan program Battle Royale sebagai usahanya untuk meredam kenakalan remaja yang sudah dianggap keterlaluan. Sebelumnya dikisahkan bahwa negara tersebut pernah mengalami permasalah sosial yang cukup kritis merembet pada keruntuhan ekonomi yang disebabkan karena pemberontakan dan kenakalan siswa yang parah. Whew! Dan untuk mengambil kontrol kembali serta tetap mengendalikan generasi muda-nya, negara ini kemudian membuat semacam permainan yang disebut Battle Royale. Intinya sih, tiap tahun, akan dipilih secara acak dari satu kelas sekolah menengah yang siswanya dianggap brutal untuk dipaksa bertahan hidup dengan cara apapun termasuk, atau lebih tepatnya, terutama dengan membunuh semua anak lain di kelasnya. Mereka diberi waktu tiga hari untuk ini dan harus hanya ada satu orang yang bertahan hidup pada akhir hari ke-3 atau semuanya mati.

Karena jalannya permainan ini diberitakan melalui media massa (tidak siaran langsung seperti The Hunger Games) maka ini diharapkan menjadi semacam shock terapi bagi setiap anak atau warganegara lain yang ingin mencoba untuk berprilaku yang dianggap tidak pantas. Intinya sih, kalian berani badung? Berani memberontak? Silahkan! Tapi rasakan akibatnya!

Saat pertama kali menonton, saya beneran gak habis pikir ini guru gila macam mana yang mengusulkan program keparat kayak gini? Iya, iyaa.. dikasih tau juga akhirnya Battle Royale ini atas prakarsa guru yang sempat mengalami bullying dan penusukan dari siswanya sendiri yang saya hakkul yakin itu bikin dia gila, hehe..Tapi beberapa saat kemudian, saya sempat membaca berita bahwa ada salah satu petinggi negara kita yang mengusulkan untuk diadakannya wajib militer sebagai upaya menyalurkan energi dan meredam tawuran serta bullying. Well, saya tetep gak setuju. Namun nampaknya bagi beberapa orang, mungkin hal-hal yang seperti ini dianggap sebagai solusi, kali, ya.. Hiiiiy!

Di The Hunger Games, permainan bunuh-bunuhan ini dilakukan sebagai peringatan atas pemberontakan 12 distrik kepada capitol negara Panem. Setiap tahun dipilihlah 2 orang anak remaja dari ke-12 distrik ini untuk dilatih dan melaksanakan permainan. Pemenang dari setiap games ini akan mendapatkan hadiah tertentu. Sebenernya sampai di sini bagi saya sudah mencengangkan. Jika di Battle Royale rada jelas yang bikin masalah anak remaja maka yang kena hukuman ya anak-anak itu sendiri (pada masa yang sama) lalu kenapa di The Hunger Games bisa jadi anak-anak yang kena getahnya? Pun sudah berlangsung selama 74 tahun pula (jika setiap tahun diadakan sekali) yang jelas pada saat pemberontakan terjadi, anak-anak ini bahkan belon eksis. Tanpa adanya protes atau pemberontakan, gitu? Atau kalaupun nanti di seri yang kedua bakal ada tapi kok meni lama bener, ya? Di mana kemanusiaan sebenarnya?

Oh, ya, ada adegan yang susah dimengerti di THG menurut saya sewaktu Katnis sama Gale bilang kalau mereka gak akan mau punya anak pada situasi seperti ini. Heh? Lah, kan pemberontakannya terjadi berpuluh tahun yang lalu. Seharusnya, bagi mereka berdua, seperti itulah dunia bergulir. Bagaimana mereka bilang ‘gak akan punya anak pada situasi seperti ini’ kalau seperti itulah seharusnya satu-satunya situasi yang mereka kenal.

Well, pada Battle Royale dikisahkan bahwa pada permainan yang ke-3 tersebut berakhir pada pemberontakan dan munculnya gerakan bawah tanah garis keras yang diprakarsai oleh anak-anak yang selamat dari permainan (Menurut hukum, anak-anak adalah mereka yang dibawah usia 18 tahun, ingat?) untuk melawan pemerintahnya sendiri. Sebuah konsekuensi logis yang harus diterima oleh setiap pemerintah yang brutal kepada rakyatnya sendiri tentu saja. Well, tapi, yah saya belum baca The Hunger Games sama sekali. Entah bagaimana kelanjutan kisahnya.

Tempo

Beda dengan Battle Royale yang bertempo cepet (atau cepet boanget kalo diingat ini film Jepang yang hobinya melamban-lamban) menggedor emosi bikin kita melongo, meringis, dan gak sempet keheranan dengan cerita yang rada terlalu jauh dari batas kemanusiaan, menurut saya The Hunger Games jadi terlampau ‘popcorn’ dan membosankan. Busyet, hampir setengah jalan di situ-situ aje. Mana itu flashback-flashback yang saya pun gak ngerti kenapa musti ada pun diulang-ulang pula. Jadi kan berasa nanggung. Udah mulai panas, eh adem lagi gara-gara flashback yang bikin ngantuk. Padahal awalnya saya kira masalah tempo ini yang jadi kelemahan Battle Royale dibanding The Hunger Games. Di Battle Royale pun ada beberapa flashback yang kecepatan bicaranya si Nanahara Suya sungguh luar biasa lembet itu (Saya yakin si Nanahara Suya adalah renkarnasi atau minimal kerasukan roh kura-kura, dah!) udah bikin bosen. Di The Hunger Games, bahkan cuma adegan dowang tanpa ngoceh pun bikin ngantuk!

Kreativitas

Ini pula yang saya salut dari Battle Royale yang sejak awal, kisahnya memang sudah sangat menekan batin. Bayangkan 42 anak yang yang sudah saling mengenal, bersahabat dan ada yang menjalin asmara tiba-tiba harus saling bunuh satu sama lain. Dan yang saya salutkan adalah bahwa hampir setiap anak ini pada akhirnya memiliki kisah dan peranannya masing-masing yang beraneka ragam yang pada akhirnya membuat kita jadi merasa jauuuh lebih peduli dan terlibat emosi saat setiap diantara mereka harus menemui ajal dengan tragisnya. Ada anak-anak yang langsung mati gara-gara gak sengaja ketembak busur sahabatnya sendiri yang gemeteran hebat atau tanpa sengaja menginjak perangkap, ada pasangan yang memilih untuk bunuh diri terjun dari tebing (Percayalah, ini adegan yang paling romantis di film yang kering ini, hehe..), ada mereka-mereka yang keluar sifat binatangnya dan tanpa ampun membantai tiap orang yang dia liat, ada yang milih untuk berkumpul dan jadi tim perawat dadakan bertekad untuk tidak kehilangan sisi kemanusiaan mereka dengan menolong siapapun yang datang kepada mereka, ada yang sepanjang film ngacir ke sana ke mari dowang, dan fave saya, ada sekelompok anak yang menggunakan waktu tiga hari tersebut untuk berkumpul dan menyerang balik dengan cara berusaha membuat dan melepaskan virus yang akan mengacaukan sistem komputer pemerintah dan seterusnya.

Intinya setiap orang punya porsi masing-masing pada kisah yang berjalan sampai pada suatu titik akhir. Tidak ada jalan pintas pembantaian masal dan tertinggal beberapa orang saja.

Tapi saya kira, ini berhubungan pada kisah dasarnya. Pada Battle Royale, ini anak-anak bau kencur, plus walikelasnya (BR 1 walikelasnya langsung dibunuh karena kekeuh menolak program dan di BR 2 walikelasnya jadi mandor di bawah ancaman eksekusi di tempat), yang akhirnya musti bertahan berdasarkan insting mereka masing-masing. Walaupun mereka semua diberi perbekalan, tanpa pelatihan apapun, tapi selain perlengkapan survival dasar, persenjataan yang mereka punya kadang emang bikin kita mau gak mau ngakak juga. Selain senapan mesin, pistol, panah, granat, racun, atau vest anti peluru, ada pula anak-anak yang ketiban siyal dapet senjata nganeh macam panci dengan tutpnya, penggorengan, kipas dari kertas, megaphone, plastik sampah, topi dari koran bekas, pedang-pedangan dari kayu dan seterusnya yang pada akhirnya justru keanekaragaman ini, dan kenyataan bahwa mereka sudah saling kenal, yang kemudian memicu kreativitas mereka juga untuk saling bekerja sama pada apapun strategi mereka masing-masingnya.

Di The Hunger Games, permainan lebih fair pada satu sisi dan sangat tidak fair di sisi yang lain. Bayangkan aja kok bisa strata umurnya jauh gitu 12-18 tahun yang pastinya gak enak bener liat anak kecil musti dibantai peserta lain yang lebih tua dan lebih matang. Dikatakan fair-nya karena setiap peserta diberi waktu untuk berlatih dan memiliki penasihat masing-masing yang bukan hanya melatih bela diri tapi juga memberi pandangan secara strategi untuk meraih perhatian sponsor atau masyarakat yang menonton. Proses pemilihan pesertanya pun pengundian secara terbuka atau mengajukan diri sendiri sementara pada BR, semua peserta bersama walikelasnya sekaligus diculik tanpa ada peringatan sebelumnya. Persenjataan yang mereka dapatkan di THG pun sama hanya yang menjadi masalah, bagaimana mereka bisa meraihnya duluan sebelum dibantai. Tidak ada senjata modern. Boro-boro ada yang bisa dapet laptop atau gps, yang seharusnya ini menjadi kekuatan sendiri seandainya kisah gak muter aja di drama satu orang ngelewatin kisah seru yang berlangsung di sekitarnya.

Beneran, saya berharap banget yang diobrolin sebelumnya bahwa peserta kebanyakan mati karena infeksi atau dehidrasi dan kelaparan itu diliatin. Tapi, yah, mungkin penulis skenarionya lupa masukin itu gara-gara terlalu fokus masupin kisah asmara dan flashback.

Pada Battle Royale, yang paling bikin absurd adalah bagaimana siapnya anak-anak ini untuk saling membantai satu sama lain yang notabene temennya sendiri. Iya, memang terbantainya satu demi satu pada awalnya gara-gara ketidaksengajaan yang seiring dengan ketegangan yang semakin meningkat, semakin cepat pula kematian datang. Jadi seakan emang bener juga tuh ‘pemerintah’ yang milih kelas itu. Sebagian besar emang aja anak-anaknya sudah punya bakat membunuh. Atau punya latar belakang masalah kejiwaan seperti Suya yang pernah terguncang saat melihat ayahnya mati gantung diri. Kita jadi melihatnya seakan ini adalah sebuah eksperimen psikologi: kumpulkan sejumlah orang dengan latar belakang tertentu, kasih senjata dan tekan habis-habisan, lalu kita saksikan apa yang akan mereka semua lakukan.

Drama

Salah seorang kawan mengatakan bahwa The Hunger Games itu film buat cewek dan Battle Royale buat cowok, hehe.. Liat aja tampang-tampangnya, dan drama romantisnya. Di The Hunger Games jauh lebih intens dan Battle Royale sangat kering, walaupun tetap ada, dikiiiiit. Tapi mungkin emang panitianya The Hunger Games bisaan kali, ya, narik lotre kebetulan dapet anak-anak yang cakep-cakep jago kelahi pula.

Buat saya, kisah asmara malahan jadi aneh. Gimana bisa pada saat seperti itu orang malah mikirin urusan cinta sedangkan buat memejamkan mata aja sulitnya minta ampun! Tapi, yah, mungkin karena pangsa pasarnya The Hunger Games remaja (puteri) juga kali, ya. Jadilah survival rasa Twilight. Bah! Sungguh menye-menye! Bertarung dan setelah semuanya berakhir, pulang dengan happy ending. Gak ada sama sekali jejak-jejak tekanan psikologis yang mustinya akan menghantam mereka.

Gila, hebat bener! Bahkan tentara yang beneran aja kadang musti mengalami depresi selepas tugas di medan perang.

Kedua-dua film ini berakhir dengan suatu perubahan. Pada Battle Royale, pemerintah mati-matian untuk mempertahankan sistem yang sudah mereka susun dan para peserta pun mati-matian pula melakukan pemberontakan yang pada akhirnya, semua siswa yang selamat kemudian dianggap buronan negara dan bukan pahlawan. Di Hunger Games, peraturan bahwa yang selamat hanya boleh satu orang saja berubah dengan tanpa ada masalah yang berarti. Pokoknya, gitu ajalah. Agak ironis bahwa masyarakat yang gak tahu malu dan gak punya hati itu bisa dengan hepinya liat anak-anak saling bantai eh malah meleleh gara-gara gak sanggup lihat pasangan kekasih saling bunuh, hehe..

Battle Royale Buku:

Author(s) Koushun Takami
Original title バトル・ロワイアル
Translator Yuji Oniki
Country Japan
Language Japanese
Genre(s) Dystopian
Thriller
Horror
Alternative history
Publisher Ohta Shuppan
Publication date April 1999
Published in
English
February 26, 2003
Media type Print (Paperback)
Pages 666
ISBN 4-87233-452-3

Battle Royale Film:

Directed by Kinji Fukasaku
Produced by Masao Sato
Masumi Okada
Teruo Kamaya
Tetsu Kayama
Screenplay by Kenta Fukasaku
Based on Battle Royale by
Koushun Takami
Starring Tatsuya Fujiwara
Aki Maeda
Taro Yamamoto
Masanobu Ando
Kou Shibasaki
Chiaki Kuriyama
Takeshi Kitano
Music by Masamichi Amano
Cinematography Katsumi Yanagishima
Editing by Hirohide Abe
Studio Toei Company
AM Associates
Kobi
Nippon Shuppan Hanbai
MF Pictures
WOWOW
Gaga Communications
Distributed by Toei Company
Release date(s)
  • December 16, 2000
Running time 114 minutes (original)

122 minutes (extended)

Country Japan
Language Japanese
Budget US$4,500,000

The Hunger Games Buku:

Author(s) Suzanne Collins
Cover artist Tim O’Brien
Country United States
Language English
Series The Hunger Games trilogy
Genre(s) Adventure
Dystopian
Science fiction
Action
Publisher Scholastic Press
Publication date September 14, 2008
Media type Print (Hardcover, Paperback)
Pages 374
OCLC Number 181516677
LC Classification PZ7.C6837 Hun 2008
Followed by Catching Fire

The Hunger Games Film:

Directed by Gary Ross
Produced by
Screenplay by
Based on The Hunger Games by
Suzanne Collins
Starring
Music by James Newton Howard
Cinematography Tom Stern
Editing by
Studio Lionsgate
Color Force
Distributed by Lionsgate
Release date(s)
  • March 12, 2012 (Premiere)
  • March 22, 2012 (Philippines)
  • March 23, 2012 (United States)
Running time 142 minutes[1][2]
Country United States
Language English
Budget $78 million[3]
Advertisements

2 thoughts on “Have You Ever Killed Your Best Friend?

  1. Fantastic goods from you, man. I have understand your stuff
    previous to and you’re just too fantastic. I really like what you’ve acquired here, certainly like what you are
    saying and the way in which you say it. You make it enjoyable and you still
    take care of to keep it smart. I can’t wait to read far more from you. This is really a wonderful web site.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s