Childhood is Like A Knife Stuck in The Throat

incendiesChildhood is like a knife stuck in the throat which cannot be removal easily

(Nawal Marwan)

Wasiat dari Dr. Nawal Marwan, dibuka untuk dua anak, Simon Marwan dan Jeane Marwan.

Sesuai dengan kehendak, aturan, dan hak-hak Nawal Marwan, dengan notaris Jean Lebel, yang juga eksekutor. Semua kekayaanku akan dibagi antara si kembar Jeane dan Simon Marwan. Uang itu akan dibagi rata. Seluruh barang-barangku akan di bagi bersama sesuai dengan kesepakatan mereka berdua.

Penguburan.

Notaris Jean Lebel akan mengatur penguburanku, dengan tanpa peti mati, telanjang, dan tanpa doa. Wajahku menghadap ke tanah, punggungku membelakangi dunia. Tidak ada batu nisan yang akan diletakkan di kuburanku dan tidak ada nama yang diukir. Batu nisan tidak layak untuk mereka yang tidak menepati janji.

Kepada Jeane dan Simon, masa kecil itu seperti sebilah pisau yang ditusukkan di tenggorokan yang tak dapat dicabut dengan mudah.

Jeane, notaris akan memberikan sebuah amplop. Amplop itu untuk ayahmu. Cari dan temukan dia, lalu serahkan amplopnya.

Simon, notaris akan memberikan sebuah amplop. Amplop itu untuk saudara laki-lakimu. Cari dan berikan amplopnya.

Saat kedua amplop tersebut sudah diberikan, sebuah surat akan diberikan kepada kalian berdua. Dan batu nisan dapat diletakkan di kuburanku.

Adegan pembuka dari kisah ini adalah ketika Jean Lebel membacakan sepucuk surat yang mengejutkan tersebut diatas kepada saudara kembar Jeane dan Simon Marwan. Ibu mereka baru saja meninggal dunia. Dan secara tiba-tiba, mereka harus mencari dua orang yang selama ini absen dari kehidupan mereka. Reaksi kedua saudara kembar ini sangat berbeda, walaupun nampaknya sama-sama dilatarbelakangi oleh rasa bersalah dan pahitnya ditinggal mati sang ibunda. Continue reading “Childhood is Like A Knife Stuck in The Throat”

Advertisements