Kisah Guru: Komreh (Iran)

Bayangkan Iran. Bayangkan adegan-adegan dalam film Bacheha-ye Asema (Children of Heaven) atau Osama. Bayangkan sebuah desa miskin ditengah gurun pasir. Nah sekarang bayangkan sebuah sekolah dasar sederhana yang seluruhnya hanya terdiri dari 3 ruangan: dua kelas dan sebuah kamar tempat tinggal guru yang sekaligus kepsek sekaligus juga…..yah pokoknya semuanyalah dia yang ngerjain sendirian, hehe… .

Guru mengajar beberapa kelas, itu memang sudah biasa. Tapi di film ini parah juga sebab nampaknya bukan hanya mereka diajar oleh satu orang yang kesana kemari, namun pengaturan kelasnya pun acak-acakan. Di dalam ruangan bercampur anak-anak di beberapa tingkat jadi satu. Rada melongo juga saya menonton adegan saat sang Pak Kepala Sekolah mengajar membaca sambil menerangkan matematika di tingkat selanjutnya. Papan tulis yang udah kecil bin gerepesan itu dibagi dua bagian. Kemudian dia memperingatkan:

‘Hei, kamu. Gak bisa meninggalkan kelas satu tapi mengganggu kelas 5 saja kerjanya. Okey, untuk kelas 5, kerjakan ini, dan untuk PR yang ini.’

Sementara itu, entah kelas berapa nampaknya sedang ditugaskan menulis.
Di pojok halaman sekolah, di bawah satu-satunya pohon, yang itu juga udah kering kerontang, terdapatlah sebuah kendi yang lumayan besar. Kendi itu adalah penampungan air untuk minum murid dan guru. Dan kisah berputar mengenai, yaaa, kendi itu.

Awal film ini dimulai pada suatu hari yang biasa, saat anak-anak berkumpul di sekitar kendi dan berebutan minum. Sang Kepala Sekolah meminta anak-anak untuk berbaris. Beliau pun mengambilkan air untuk mereka semua satu per satu. Saat sedang asik antri tersebut, salah satu murid memberi tahu kalau ada air mengalir di sisi kendi. Yup, ternyata kendinya retak,cuuuuy! Air merembes melewati celah retakannya.

Persoalan kendi ini ternyata bener-bener bikin tokoh kita yang budiman kelelahan.

Awalnya, tentu dong, ditanya siapa yang sengaja, atau tidak sengaja, merusakkan kendi. Selidik punya selidik, si kendi memang sudah saatnya rusak. Tertimpa panas dan dingin yang berganti cukup drastis ala gurun di timur tengah, maka retaklah ntu kendi. Maka selanjutnya adalah, mencari siapa yang bisa memperbaiki ntu kendi.

’Bapaknya Ghanbary.’ Kata salah satu anak.

Si Ghanbary-nya rada bengong, tapi dia ho-oh aja disuruh lari pulang dan panggil si bapak. Balik lagi, dia bilang kalau bapaknya sibuk hari ini, mungkin besok bisa datang. Salah satu anak berteriak kalau bapaknya Ghanbary gak akan mau datang sebab gak ada bayarannya. Maka malamnya, Pak Kepala Sekolah yang datang dan meminta pertolongan bapaknya Ghanbary. Si bapak menghindar-hindar, kemudian terungkap, memang si bapak ogah datang karena gak akan ada bayarannya.

’Minta pemerintah untuk membelikan kendi yang baru.’ Kata bapaknya Ghanbary.

’Saya sudah menulis surat pada Departemen Pendidikan mengenai beberapa hal, tapi gak pernah ada tanggapannya. Saya minta papan tulis sudah dua tahun tidak ada jawaban. Kalau saya menulis tentang kendi sekarang, entah kapan ada tanggapannya.’

Wew, saya jadi ingat dulu saat KKN di desa di Sumedang sana, Bu Kepsek bilang bahwa dia sampai sudah malu minta tambahan guru, tapi gak pernah ditanggapin. Katanya sudah dikirim guru baru, tapi udah dua tahun gak nyampe-nyampe tu guru. Nyasar kali, heheh…

Si Kepsek pulang. Ghanbary-nya ngambek. Berdiri di pintu setengah nangis memohon bapaknya membantu Kepsek. Sampai besoknya, si anak masih terus memohon sampai akhirnya dilempar batu oleh si bapak. Tapi sang anak malu. Dia tidak diejek, sang Kepsek pun tidak mengungkit sama sekali, tapi si anak tetap malu. Maka boloslah dia kabur dari sekolah.

Itulah yang menarik dari film-film Iran. Manusiawi. Tanpa banyak ekspresi yang berlebihan dengan kisah yang selalu sederhana dan wajar, tanpa ada tokoh jahat, mampu mengaduk-aduk emosi. Banyak kali saya meringis sedih sambil geli dengan adegan saat satu persoalan yang nampaknya keciiiiiil bagi kita, bisa membuat ruwet orang satu desa! Klimaksnya sampai ketika Pak Kepala Sekolah kita yang masih muda dan sangat sabar ini memutuskan untuk menyerah dan pergi meninggalkan desa. Tentu dong, sampe SEMUA penduduk ikutan nimbrung ngumpul dan meminta sang guru untuk bertahan. Rame pula adegannya sampai ribuuuut kayak pasar sementara si Kepsek terduduk dengan sapu tangan di mukanya. Menitikan air mata.

Saya selalu tertarik dengan film-film dari Iran. Pada negara dengan sensor yang sangat ketat, nampaknya itu tidak menyurutkan kreatifitas para pekerja filmnya. Selalu sederhana, dengan tema yang membumi, tapi memiliki karakter yang khas. Dengan mempertahankan identitas dirinya, saya kira Iran sudah sangat mampu membuktikan dirinya sendiri. Salah satu buktinya, ya, tentu saja dengan keberhasilan yang luar biasa dari A Separation yang berhasil menyabet piala Oskar sebagai film asing terbaik.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s