Tokyo Zodiac Murder

Saya sangat menyadari reputasi saya sebagai orang gila. Saya mungkin berbeda dengan orang lain, tetapi itulah yang menjadikan saya seorang seniman. Seni bukanlah meniru hasil karya orang lain; seni sejati ada dalam perbedaan.

Pertama, saya paling tidak suka membaca buku detektif, atau crime, yang berjudul ‘pembunuhan’.  Kesannya jadi cetek banget ajalah, gitu, hehe.. Saya suka kisah dengan genre tersebut tapi tidak memakai nama yang ada hubungannya dengan pembunuhan, seperti Name of The Rose, misalnya. Bagi saya, itu salah satu judul kisah terhebat di dunia.

Tapi, yah, itu kan cuma judul, ya, kan?

Kedua, saya paling tidak suka membaca buku yang pada halaman awalnya sudah terperinci daftar nama tokoh beserta keterangan. Haduh, kebanyang banget ruwetnya baca buku yang seperti ini. Terlalu banyak tokoh! Apalagi jika ditambah pula dengan denah-denah rumah serta tempat kejadian perkara.

Tambah berat jika si tokoh-tokoh bererot itu memiliki nama-nama yang ngejelimet dan susah diingat.

Moaleeees..

The Tokyo Zodiac Murders ini memiliki dua hal yang sangat saya benci tersebut. Namanya seabrek-abrek, nama Jepang pula yang tentu bagi saya sangat tidak familiar dan susah diingat. Jadi, wajar, dong, jika awalnya saya menutup dan melemparkan buku ini kembali ke dalam rak.

Lalu kemudian saya mengambil dan membacanya kembali, dan saya tidak dapat meletakkan sampai ke halaman akhir. Continue reading “Tokyo Zodiac Murder”

Advertisements