Hilang dan Susah Dapet Lagi II: Jerusalem: One City Three Faith karya Karen Armstrong

$(KGrHqQOKkQE3uc,s0ELBN8o9OmHhQ~~_35Karya Karen Armstrong adalah perwakilan atas semua hal yang saya cintai pada dunia literature: sejarah, filsafat, dan agama. Jadi setiap bukunya selalu menarik saya.

Dari sembreng buku beliau, yang diterbitkan di Indonesia, sebagian besar oleh Mizan, sebenernya hanya segelintir saja. Mungkin yang paling tekenal adalah A History of God yang terasa masih sangat fresh jika dibandingkan dengan The Battle for God: Fundamentalism in Judaism, Christianity and Islam atau karya-karya sesudahnya. Dari The Spiral Staircase, saya mengetahui bahwa The Battle for God: Fundamentalism in Judaism, Christianity sebenarnya semacam pembaruan dari karyanya yang sebelumnya yaitu Jerusalem: One City, Three Faiths yang Karen dapatkan ide menulis tentang itu saat kantong belanjaannya ambrol di depan supermarket tempat dia belanja, hehe.. Continue reading “Hilang dan Susah Dapet Lagi II: Jerusalem: One City Three Faith karya Karen Armstrong”

Lord Help My Poor Soul

Edgar Allan Poe dan Virginia
Edgar Allan Poe dan Virginia

Science has not yet taught us if madness is or is not the sublimity of the intelligence

Edgar Allan Poe

Kalimat yang saya tuliskan sebagai judul diatas adalah kata-kata terakhir dari salah satu sastrawan besar Amerika Serikat, Edgar Allan Poe. Belum pernah baca karyanya Edgar Allan Poe? Di toko buku ada, tuh, kumpulan kisah Edgar Allan Poe terbitan Gramedia. Tiga belas cerita dengan harga tidak sampai Rp. 50.000,- Saya hapal soalnya baru-baru ini baru saja membelinya kembali dan membacanya ulang. Yup, ini tadinya masup ke ke kategori ‘hilang dan susah dapet lagi’ etapi ternyata saya sudah mendapatkannya kembali.

Mungkin musti ada kategori ‘hilang dan tadinya susah dapet lagi eh ternyata sudah dapat lagi’, hehe..

Ini bukan mau ngomongin Kisah-Kisah Tengah Malam. Kalau ngomongin kumcer itu bisa dari sependek ‘bikin merinding’ sampai tiga halaman folio diketik satu spasi yang mungkin enggak cukup juga. Ini mau ngoceh-ngoceh tentang The Raven dan Hitchcock. Continue reading “Lord Help My Poor Soul”

Tom Sawyer

imagesKebanyakan dari petualangan yang terekam dalam buku ini sungguh-sungguh terjadi; satu atau dua adalah pengalamanku sendiri, yang selebihnya adalah pengalaman anak-anak lelaki teman sekolahku. Huck Finn diabil dari kehidupan; Tom Sawyer juga, tapi dia bukan seorang individu—dia adalah kombinasi karakter dari tiga anak lelaki yang kukenal, dan karenanya menjadi bagian dari urutan arsitektur yang terpadu.

Meskipun bukuku dimaksudkan terutama untuk menghibur anak-anak lelaki dan perempuan, kuharap ini tidak ditolak oleh orang-orang dewasa, karena sebagian dari rencanaku adalah berusaha dengan senang hati mengingatkan orang-orang dewasa tentang apa yang pernah terjadi pada diri mereka sendiri dahulu, dan tentang bagaimanamereka merasa dan berpikir dan bicara, dan masalah apa yang kadang mereka hadapi.

(Mark Twain, Hartford 1876)

Siapa sih yang gak tau Tom Sawyer? Mark Twain? SIAPA SIH YANG BELUM BACA THE ADVENTURE OF TOM SAWYER? HAYO NGACUNG!

*pentung!!

Tom Sawyer adalah salah satu tokoh cerita yang dikenal oleh banyak orang, sepanjang masa. Bahkan bagi orang-orang yang belum pernah membaca buku-nya Mark Twain sekalipun. Saya cukup yakin banyak yang tahu, walaupun hanya sekedar nama atau bagaimana karakternya. Karena sampai pada tahun 2013 ini, tercatat—yang tercatat, ya– lebih dari 20 film layar lebar maupun TV seri yang terdapat karakter Tom, baik dia sebagai tokoh utama maupun sebagai salah satu tokoh dalam kisah, dari seluruh dunia.

Tom Sawyer nungul dari mulai secara normal, anak lelaki pada umumnya, sampai jadi tokoh-tokoh kartun hewan. Bahkan dalam film The League of Extraordinary Gentlemen, Tom Sawyer dewasa muncul sebagai salah satu agen rahasia Amerika Serikat. Continue reading “Tom Sawyer”

The Tokyo Zodiac Murders

Saya sangat menyadari reputasi saya sebagai orang gila. Saya mungkin berbeda dengan orang lain, tetapi itulah yang menjadikan saya seorang seniman. Seni bukanlah meniru hasil karya orang lain; seni sejati ada dalam perbedaan.

Pertama, saya paling tidak suka membaca buku detektif, atau crime, yang berjudul ‘pembunuhan’. Kesannya jadi cetek banget ajalah, gitu, hehe.. Saya suka kisah dengan genre tersebut tapi tidak memakai nama yang ada hubungannya dengan pembunuhan, seperti Name of The Rose, misalnya. Bagi saya, itu salah satu judul kisah terhebat di dunia.

Tapi, yah, itu kan cuma judul, ya, kan?

Kedua, saya paling tidak suka membaca buku yang pada halaman awalnya sudah terperinci daftar nama tokoh beserta keterangan. Haduh, kebanyang banget ruwetnya baca buku yang seperti ini. Terlalu banyak tokoh! Apalagi jika ditambah pula dengan denah-denah rumah serta tempat kejadian perkara.

Tambah berat jika si tokoh-tokoh bererot itu memiliki nama-nama yang ngejelimet dan susah diingat.

Moaleeees..

The Tokyo Zodiac Murders ini memiliki dua hal yang sangat saya benci tersebut. Namanya seabrek-abrek, nama Jepang pula yang tentu bagi saya sangat tidak familiar dan susah diingat. Jadi, wajar, dong, jika awalnya saya menutup dan melemparkan buku ini kembali ke dalam rak. Continue reading “The Tokyo Zodiac Murders”

Beli Koran Dapet Sarapan

Jadi, tadi pagi, seperti biasa, saya melipir ke tukang koran. Ya, buat beli koran, laaah.. Hanya kali ini, mata saya teralih dari koran langganan ke koran lain.

Soalnya dapet sarapan gratis, hehe..

Beli koran yang ini, bukan koran ecek-ecek, termmasuk salah satu koran terkenal juga, dapet sarapan gratis.

Harga korannya 3 ribu rupiah.

Iseng, saya beli.

Ternyata isi sarapannya adalah:2013-03-20 07.41.452013-03-20 07.42.08

Mayaaan buat gratisan :p

Hukum, Keadilan, dan Kemanusiaan

If you can’t solve the puzzle, if you can’t win the game, then you’re just a looser

Saya ‘menemukan’ seri Death Note awalnya gara-gara salah sangka yang dikirain itu film Death Notice yang, sebaca dari review, cerita tentang negara Jepang yang merasa udah kelebihan penduduk. Jadi pemerintah memberikan semacam vaksinasi yang sesungguhnya mereka menanamkan suatu alat yang akan menghentikan kerja jantung saat diperlukan. Nah, duapuluh empat jam sebelum jantung seseorang dihentikan, pemerintah memberikan pemberitahuan untuk itu. Jadi kisah bergulir mengenai apa-apa yang dilakukan oleh orang-orang ini untuk menghabiskan duaapuluh empat jam terakhir dalam hidupnya. Continue reading “Hukum, Keadilan, dan Kemanusiaan”

Komik Jepang I: Gold Fish, Master Keaton, dan Pengantin Demos.

Ini gara-gara selama beberapa hari saya menamatkan nonton 20th Century Boys dan mulai baca Billy Bat, jadilah mulai lagi nyari-nyari komik Jepang lama.

Saya bukan penggemar komik Jepang (atau manga atau apalah, ya, hehe..) yang mungkin lebih dikarenakan semasa SMP dulu, saya semacam dikerubungin sama komik-komik Jepang serial cantik yang kagak ada seru-serunya pisan! Maklum, waktu itu saya tinggal di pesantren, di asrama perempuan yang semua isinya perempuan! Jadi cuman komik-komik cewek gitulah yang saya tahu. Manalah ada yang bawa Kung Fu Boy atau apalagi Detective Kindaichi.

Dan seperti kita semua tahu–atau cuman saya aja yang bermasalah?—komik serial cantik itu bukan hanya ceritanya gak rame (Pokoknya ada cewek yang merasa gak cakep, merasa ceroboh, merasa diri aneh, suka sama cowok populer ganteng trus akhirnya mereka jadian. Yah, minimal dari beberapa yang saya baca gituh!), susunan penempatan panel gambarnya pun boerantakan pisan! Bikin puyeng kehilangan arah ini teh sebetulnya dibacanya dari mana? Dari kanan? Dari kiri? Dari atas apa dari bawah? Etapi masa sih dari bawah?

Tapi bukan berarti saya mati-matian gak tau sama komik. Ada beberapa komik yang sempat saya ikuti dulu kala bahkan sampai sekarang, walaupun bisa diitung dengan jari pun gak semuanya sampai tamat.

Gold Fish (Neko Nekobe) Continue reading “Komik Jepang I: Gold Fish, Master Keaton, dan Pengantin Demos.”